Karena dengan menggunakan agen hayati Bios 44 DC ini, menurut ayah dua anak ini, pakan Magot dari sampah organik tersebut bisa bertahan lama atau tidak cepat bau. Bahkan, Magot juga lebih suka jika pakannya itu, dipermentasi dengan menggunakan Bios 44 DC dan hasil produktifitas Magotnya juga begitu bagus.
“Selain bisa mengurai sampah organik, ulat Maggot kami manfaatkan juga sebagai pakan ternak ayam saya. Sehingga melalui budidaya Magot ini juga ada nilai ekonomisnya,” ujar prajurit Secaba reg if 2007.
Serka Nurinto berharap, dengan beternak Magot tersebut bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi sampah yang sampai saat ini menjadi permasalahan di setiap desa, kecamatan maupun di kabupaten.
Sementara itu, Dandim 0617/Majalengka, Letkol Inf Andik Siswanto mengungkapkan, budidaya ulat Magot yang dilakukan anggotanya dapat ditiru oleh anggota lainnya maupun warga masyarakat.
Hal ini, kata Dandim, juga untuk menciptakan lingkungan bersih dari sampah dan memberi nilai ekonomis bagi yang memiliki ternak.
“Kami sangat mendukung yang telah dilakukan oleh Serka Nurinto tersebut. Karena, dengan budidaya ulat Maggot, secara tidak langsung, Serka Nurinto juga sudah membantu menangani permasalahan sampah yang ada di masyarakat,” jelasnya. (Munadi)















































































































Discussion about this post