INDRAMAYU, (FC).- Seorang nelayan asal Kecamatan Indramayu berinisial D (47) ditemukan meninggal dunia secara misterius di atas kapal usai pulang cari ikan di perairan Papua dalam perjalanan pulang.
Kasat Polair Polres Indramayu, AKP Tohari mengatakan, nelayan yang meninggal tersebut sekaligus merupakan nahkoda Kapal Pasific 7 Gross Tonnage (GT) 75.
“Kapal tadi tiba sekitar pukul 20.00 WIB di pelabuhan depan Mako Satpolair Polres Indramayu,” ujar Sabtu (25/4) malam.
Disebutkan AKP Tohari, nelayan tersebut diketahui meninggal dunia pada Jumat (24/4) sekitar pukul 14.00 WITA di perairan Kalimantan saat hendak pulang ke Indramayu.
Dalam hal ini, pihaknya pun segera menghubungi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Indramayu untuk membantu mengevakuasi jenazah.
Hal tersebut dikarenakan penyebab pasti meninggalnya korban masih menjadi misteri, proses evakuasi pun dilakukan sesuai protap penanganan pasien Covid-19.
“Kita lakukan sesuai SOP penanganan Covid-19, karena kita tidak tahu penyebab nelayan itu meninggalnya karena apa? Nanti setelah otopsi baru tahu kenapa bisa sampai meninggal dunia,” ujar dia.
Sementara itu, tenaga medis Puskesmas Margadadi, Siti Nur mengatakan, selepas kapal mendarat, jenazah langsung dibuka bajunya untuk melihat kondisi sementara pada bagian tubuh.
Setelah itu jenazah langsung dibungkus plastik lalu dimasukan ke kantung mayat dan dibawa ke RSUD Indramayu untuk pemeriksaan lebih lanjut menggunakan mobil ambulance.
“Ada benjolan di punggungnya semacam bisul di punggung, tapi bukan dari Covid-19 ya, kita garis bawahi bukan dari Covid-19,” ujar dia.
Berdasarkan pengakuan rekan jenazah, diceritakan Siti Nur, dalam beberapa hari terakhir selesai mengangkut ikan dan hendak kembali berlayar pulang nelayan yang meninggal secara misterius itu mengeluhkan sakit pada bagian punggung.
“Rekannya pun awalnya tidak menaruh curiga, mereka menyangka ia tengah tertidur,” ujarnya.
Namun, saat dibangunkan, nahkoda kapal tersebut sudah meninggal dunia pada Jumat (24/4) sekitar pukul 14.00 WITA di perairan Kalimantan saat perjalanan pulang ke Indramayu.
“Dia berangkat dari rumah berlayar itu dia tidak mengeluh apa-apa, kelihatan sehat,” ujar dia.
Dia mengatakan, pihaknya tidak tahu penyebab kepastiannya itu Covid-19 atau bukan, untuk penjelasan lebih lanjutnya nanti setelah ada pemeriksaan di sana (RSUD Indramayu).
Namun demikian, mereka ditetapkan sebagai OTG karena hingga sekarang penyebab pasti meninggalnya jenazah belum diketahui secara pastinya.
“Awak kapal ada 13 orang, totalnya ada 14 sama dia (jenazah). Rata-rata suhu tubuh mereka juga hanya 36 derajat saat discreening, tidak ada yang 37 derajat apalagi 38 derajat, alhamdulillah sehat semua,” ujar dia.
Selama 14 hari kedepan, para ABK itu haruskan menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing.
Mereka akan dipantau secara rutin oleh petugas medis pada hari pertama, ketiga, ketujuh, dan keempat belas.
“Kita akan pantau kondisi mereka setelah mendarat, sekian hari apakah ada keluhan atau tidak, seperti pilek, demam, sesak napas, tadi alhmadulillah tadi dicek semuanya normal,” pungkasnya. (Agus)











































































































Discussion about this post