KOTA CIREBON, (FC).- Jelang Hari Raya Iduladha, kesehatan hewan ternak untuk kurban terutama sapi menjadi perhatian. Pasalnya, saat ini masih mewabah penyakit kuku dan mulut (PMK). Bahkan ratusan sapi di Kabupaten Cirebon dan kuningan positif PMK.
Bagaimana dengan Kota Cirebon?
Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Pertanian (DKPPP) Kota Cirebon, Yati Rohayati Rabu (6/7) menyampaikan, pihaknya mendapatkan laporan, sebanyak 122 sapi di Kota Cirebon terinfeksi PMK. Dari jumlah itu, 2 sapi dipotong paksa, 1 sapi mati, 45 sembuh dan 74 masih sakit.
“Dokter hewan kami terus mengawasi sapi tersebut dan diobati agar sembuh,” katanya.
Yati mengakui, penularan PMK sangat cepat, pihaknya meminta petugas di lapangan agar mengawasi sapi yang sehat secara ketat. Karena pihaknya khawatir penularan virus PMK ini dibawa oleh manusia.
“Kami minta harus ada pengawasan khusus bagi sapi yang masih sehat. Hal ini untuk mencegah penularan,” ujar dia.
Selain itu, pihaknya menerjunkan tim yang bertugas mengawasi penjualan sapi kurban. Petugas akan langsung melakukan pemeriksaan saat ada sapi yang datang datang dari daerah luar Cirebon.
“Jika ada sapi dari daerah lain kami langsung lakukan pemeriksaan. Jangan sampai sapi kurban yang jual dalam kondisi sakit,” tegasnya.
Bagi sapi kurban yang sehat, pihaknya akan memasang label atau menempelkan tanda khusus. Namun bagi yang sakit, langsung dilakukan pengobatan dan dilarang untuk dijual.
“Sapi sehat kami beri tanda, namun yang sakit kami minta untuk segera diberi obat,” kata dia.
Pihaknya mengimbau bagi masyarakat untuk membeli sapi yang bertanda khusus. “Jika ingin beli sapi kurban harus yang sudah lolos uji kesehatan,” tegasnya.
Sementara itu, pedagang hewan kurban di Kelurahan Kalijaga Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon H Samhudi (60) mengatakan, saat ini penjualan hewan kurban ini cenderung menurun.
“Tahun lalu saya bisa menjual lebih dari 30 ekor sapi. Namun sampai Hari Rabu ini baru menjual tidak lebih dari 20 sapi saja. Padahal pada H-3 Iduladha biasanya sedang ramai-ramainya pembeli hewan kurban, tapi kali ini biasa-biasa saja,” ucapnya.
Dikatakannya pula, untuk mendapatkan hewan kurban, dirinya harus menunggu cukup lama. Hal ini dikarenakan adanya wabah PMK, sehingga ada pemeriksaan yang sangat ketat. Baik di daerah asal produsen maupun bila sampai Kota Cirebon.
“Untuk sapi, saya jual mulai dari harga Rp20 juta naik Rp1juta dari tahun lalu. Untuk kambing paling murah ada yang Rp2,3 juta, naik Rp300 ribu dari tahun lalu,” sebutnya.
Kenaikan ini lanjutnya, dipengaruhi oleh biaya perawatan, obat dan vitamin, yang merupakan pengeluaran dari produsennya. Hal ini wajib dilakukan, mengingat hewan kurban sangat rentan tertular PMK.
“Pemberian obat dan vitamin bertujuan untuk menjaga kesehatan hewan ternak yang dijual, sehingga tidak mudah terserang penyakit khususnya PMK. Pakannya juga harus diperhatikan, tidak bisa sembarangan, jadi ada tambahan biaya dan harganya terpaksa dinaikkan,” tutupnya. (Agus)















































































































Discussion about this post