KAB. CIREBON, (FC).- Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Tunas Kencana Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT). Rapat yang berlangsung di salah satu pendopo rumah makan di Kecamatan Talun itu bertujuan untuk melaporkan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas tahun buku 2021 dan membahas serta menetapkan rencana kerja, rencana anggaran, pendapatan dan pembiayaan (RAPP) tahun buku 2022.
Ketua KPRI Tunas Kencana, Husein Fauzan menjelaskan, bahwa anggota KPRI Tunas Kencana kini berjumlah 125 orang, memiliki unit usaha simpan pinjam, warung serba ada (waserda), jasa, kredit roda dua (motor) dan roda empat (mobil), serta foto copy atau penjilidan. Disamping itu melayani pula pembayaran rekening listrik atau pelayanan isi ulang listrik (token), telepon, cicilan kredit roda dua dan empat, isi ulang pulsa pra bayar dan pasca bayar, tiket kereta api, TV kabel (TV berbayar), pajak kendaraan dan PBB, PDAM, transfer uang, dan lain-lain, sebagai salah satu ciri koperasi modern.
Dikatakan Fauzan, bahwa unit simpan pinjam dapat melayani pinjaman anggota sampai Rp 150.000.000,- jangka waktu 72 bulan, dengan jasa satu persen menurun. “Ini sungguh luar biasa, karena di Kabupaten Cirebon, KPRI yang pinjamannya sebesar itu dengan jasa yang sangat-sangat ringan, bisa dihitung dengan jari. Bahkan mungkin tidak ada,” kata Fauzan optimis, Selasa (11/1).
Kewajiban bulanan anggota, lanjut Fauzan, adalah simpanan pokok Rp300.000, simpanan wajib Rp250.000 per-bulan serta dana sosial Rp30.000, disamping membayar cicilan pinjaman bagi yang punya pinjaman, baik uang maupun barang. Sedangkan khusus bagi anggota baru diwajibkan membayar uang penyetaraan sebesar Rp3.000.000 yang akan menjadi milik institusi koperasi.
Yang mungkin tidak ditemukan (cukup langka) pada RAT koperasi lain, tapi ada pada koperasi Tunas Kencana adalah setiap anggota, disamping mendapatkan sisa hasil usaha (SHU), pengurus juga memberikan uang duduk sebesar Rp1000.000 plus transport Rp200.000 jadi total Rp 1.200.000 per anggota. “Saya yakin di Kabupaten Cirebon bahkan di Indonesia belum ada koperasi pegawai (KPRI) yang memberikan uang duduk dan transport sebesar itu bagi para anggotanya,” beber Fauzan.
Disamping itu, tambah Fauzan, pengurus juga menyediakan doorprize sebesar Rp20 juta yang diberikan dalam bentuk barang dan uang. Doorprize tertinggi dalam bentuk uang sebesar Rp4 juta dan terendah Rp500.000 sementara dalam bentuk paket barang adalah Rp 250.000 yang isinya sembako.
Tahun ini anggaran beasiswa terserap Rp8.000.000 diperuntukkan bagi putra putri anggota KPRI Tunas Kencana yang berprestasi (rangking 1 sampai 5) di kelasnya. Program lainnya, lanjut Fauzan, selain tabungan haji untuk mendapatkan waiting list (daftar tunggu) bagi calon haji, juga memberikan fasilitas pinjaman perjalanan umroh. Masih banyak lagi program lainnya seperti pemberian santunan bagi anggota yang sakit dan meninggal dunia, pendidikan dan pelatihan perkoperasian bagi anggota dan pengurus, pemberian kadeudeuh bagi yang purna karya.
Jumlah kekayaan KPRI Tunas Kencana lebih dari Rp4,4 miliar. Dari jumlah itu modal sendiri yang terdiri dari simpanan pokok, simpanan wajib, cadangan, pemupukan modal, modal equitas, SHU tahun berjalan berjumlah sekitar Rp3,4 miliar. “Dari kekayaan dengan berbagai jenis usaha yang dikelola, SHU tahun ini tercapai 105 persen atau sekitar Rp47 juta dari target sekitar Rp45 juta,” ungkap Fauzan mengakhiri paparannya.
Dalam arahannya Kepala DPPKBP3A, Hj Enny Suhaeni mengatakan, bahwa RAT bagi sebuah koperasi merupakan hal yang mutlak harus dilaksanakan, karena RAT merupakan sendi utama dalam menggerakkan koperasi. Selain itu, RAT juga sebagai forum pengambilan keputusan tertinggi dalam koperasi, yang menyatakan bahwa kekuatan utama organisasi koperasi adalah pada anggota.
Dikatakan Enny bahwa arus globalisasi sudah tidak terbendung lagi. Perkembangan teknologi yang semakin canggih, dunia kini tengah berada pada era revolusi industri 4.0, menjelang era 5.0, yang antara lain menekankan pada pola digital economy. Oleh karena itu, untuk menyesuaikan dengan teknologi yang semakin canggih memasuki era revolusi industry hendaknya koperasi mempertimbangkan untuk menciptakan perubahan yang besar pada bisnis koperasi. “Digitalisasi koperasi antara lain dengan penggunaan aplikasi pencatatan keuangan dan bisnis yang efisien dan teruji,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Cirebon, Mohamad Ferry Afrudin melalui Kabid Koperasi, Edwin Yudianto mengatakan, bahwa RAT mempunyai arti yang sangat strategis dalam pengembangan koperasi kearah yang lebih baik, karena dalam rapat anggota tahunan ini, akan dibahas laporan pertanggung jawaban pengurus dan pengawas, serta rencana kerja dan rencana anggaran pendapatan dan biaya koperasi.
“Pertanggungjawaban ini penting dilakukan untuk mengukur kinerja pengurus dan pengawas serta mengevaluasi seluruh program kegiatan, agar kinerja koperasi dapat diperbaiki dan lebih disempurnakan lagi,” uangkapnya. Sementara itu, Wakil Ketua Dekopinda Kabupaten Cirebon, H Ma’mun Efendi dalam sambutannya mengatakan, bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, koperasi dituntut untuk menyesuaikan dengan perkembangan tersebut.
Oleh karena itu, ke depan Koperasi Tunas Kencana sudah harus memanfaatkan teknologi digital dengan menggunakan platform e-commerce, aplikasi retail online dan pengembangan aplikasi bisnis lainnya, yang akan terintegrasi melalui jaringan ke berbagai institusi baik pemerintah maupun institusi bisnis, sehingga perkembangan koperasi dapat menyesuaikan diri dan bertahan di era Revolusi Industri 4.0. menjelang 5.0.
“Koperasi dituntut untuk berubah menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Apabila tidak, maka koperasi akan ketinggalan dan tergerus perkembangan tersebut, namun demikian tetap kita perlu mempertimbangan cost yang ada,” ujar Ma’mun. (Ghofar)















































































































Discussion about this post