KAB. CIREBON, (FC).- Kuwu terpilih Desa Mekarsari, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon, Mohammad Ghozin yang baru 12 hari masuk kerja sudah diserang 7 kali banjir, imbasnya beberapa infrastruktur jalan juga banyak mengalami kerusakan. Disela penanganan banjir yang terjadi Selasa (11/1), Ghozin mengungkapkan, Desa Mekarsari merupakan desa langganan banjir yang telah berlangsung sejak beberapa tahun silam, bicara soal penanganan dan solusi banjir.
Pemdes tidak bisa menangani persoalan banjir tersebut sendirian, perlu campur tangan dan duduk bersama dari semua pihak untuk mencari solusi penanganannya dari mulai BBWSCC, Pemprov Jabar, Pemkab Cirebon, Pemdes yang ada sepanjang DAS Ciberes dan para pemangku kebijakan lainnya.
“Ada kesan saling lempar tanggungjawab, sehingga perlu duduk bersama untuk menyelesaikan persoalan banjir ini,” terangnya, Selasa (11/1).
Ditambahkannya, kejadian banjir yang ketujuh kalinya selama dirinya menjabat sebagai Kuwu baru Desa Mekarsari sejak 1 Januari 2022 lalu, banjir saat ini termasuk banjir terbesar dengan ketinggian mencapai hingga 1 meter, ratusan rumah terdampak. Penyebab utamanya adalah pendangkalan sungai Ciberes sehingga air sungai meluap ke permukiman warga, menurutnya dari laporan perangkat desanya pernah ada pengerukan di tengah bulan November 2021 lalu, namun karena hujan tinggi membuat mesin keruk terjebak dan kemudian diangkut pulang. “Selama menjabat sudah 7 kali banjir melanda Desa Mekarsari, dan saat ini yang terbesar ada sekitar 500 rumah warga yang terdampak,” terangnya.
Senada juga disampaikan Kuwu Desa Cikulak Kidul, Nastori. Menurutnya, masalah banjir di wilayah Kecamatan Waled adalah masalah bersama dan tanggungjawab bersama, persoalan dari hulu sampai hilir sungai yang membuat sungai Ciberes meluap ketika hujan besar dan adanya kiriman dari Kuningan.
Di hulu hutan semakin gundul dan galian bermunculan, sementara di hilir dari bendungan Suraka Tiga di Desa Ciuyah Kecamatan Waled, kondisi Sungai mengalami sedimentasi sampai di bendungan Kemplang di Desa Cangkuang, Kecamatan Babakan ditambah pintu air bendungan Kemplang rusak dan hanya berfungsi satu pintu saja, dan dari bendungan Kemplang sampai ke muara sungai di Desa Gebangmekar Kecamatan Gebang juga mengalami hal serupa, terjadi sedimentasi.
“Air yang datang dari Kuningan tak mampu tertampung di sungai Ciberes, akibatnya selalu meluap hingga ke permukiman warga,” terangnya. Ditambahkannya, saat ini beberapa desa di Kecamatan Waled yang menjadi langganan banjir hanya bisa melakukan langkah antisipasi banjir bukan melakulan solusi penanganan banjir, karena jika bicara solusi penangann banjir harus dilakukan penanganan dari hulu sampai hilir sungai dilakukan normalisasi, bendungan Kemplang juga harus diperbaiki, serta saluran tersier dari bendungan Kemplang juga harus dibenahi agar luapan air juga bisa terbagi ke beberapa saluran lainnya sehingga sungai Ciberes tidak over kapasitas.
“Tahun ini di Kecamatan Waled akan dibuat waduk dengan luas lahan sekitar 28 hektar, mudah-mudahan bisa menampung air sungai Ciberes bila over kapasitas sehingga tidak meluap ke permukiman warga, ini pun meskipun bukan penyelesaian persoalan banjir, namun setidaknya dapat mengantisipasi banjir,” pungkasnya. (Nawawi)















































































































Discussion about this post