KOTA CIREBON, (FC).- Herd immunity adalah ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular tertentu.
Sehingga memberikan perlindungan tidak langsung atau kekebalan kelompok bagi mereka yang tidak kebal terhadap penyakit menular tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon Edy Sugiarto mencontohkan, jika 80 persen populasi kebal terhadap suatu virus, empat dari setiap lima orang yang bertemu seseorang dengan penyakit tersebut tidak akan sakit, dan tidak akan menyebarkan virus tersebut lebih jauh.
Jadi, bila herd immunity sudah tercapai 70 persen penduduk divaksinasi Covid-19, barulah bisa optimis bisa menghadapi pandemi Covid-19.
“Kita targetkan sudah terjadi herd immunity atau kekebalan kelompok terhadap Covid-19, pada akhir tahun ini. Namun untuk pandemi Covid-19, diprediksi baru berakhir pada tahun 2024 mendatang,” ungkapnya kepada FC, Senin (26/7).
Pihaknya masih mengejar jumlah vaksinasi untuk 100 ribu warga Kota Cirebon, guna mencapai angka 70 persen herd immunity.
Dan Selasa ini, akan kembali dilaksanakan vaksinasi Covid-19 untuk tahap 2, sebanyak 13.800 dosis vaksin disediakan di Arhanudse.
“Iya dengan kecepatan vaksinasi saat ini di Jawa Barat, herd immunity paling cepat terbentuk Maret 2022. Tapi saya yakin, untuk Kota Cirebon akan lebih cepat dari itu,” imbuhnya.
Sementara itu, Edy menuturkan, separuh dari pasien Covid-19 yang meninggal dunia di sejumlah RS di Kota Cirebon, adalah warga dari luar kota.
Pasien yang meninggal tersebut didominasi oleh warga Kabupaten Cirebon.
Namun karena dirawatnya di RS Kota Cirebon, sehingga tercatatnya masuk data di Kota Cirebon.
“RSD Gunung Jati itu, pasien yang dirawat Covid-19, 65 persennya bukan warga Kota Cirebon. Namun karena RS ini adalah rujukan wilayah III, maka tetap menerima pasien dari luar kota,” pungkasnya. (Agus)
















































































































Discussion about this post