KOTA CIREBON, (FC).- Mie Ramen atau makanan terkenal khas Jepang pada umumnya terdapat di resto-resto ruko atau di mall.
Tapi di Kota Cirebon ternyata ada juga kedai Ramen ala gerobak yang mangkal di pinggir jalan.
Konsep bisnis kuliner yang terbilang masih jarang dijumpai ini dirintis oleh dua pemuda, Heri dan Vicko.
Ramen gerobak menjadi hal yang unik dan berbeda tersendiri. Gerobak ini pun didesain dengan nuansa kedai ramen resto, ada lampionnya segala.
Tak heran, ramen gerobak milik dua pemuda asal Cirebon ini kerap menghabiskan kurang lebih 80 porsi perharinya.
Bagi yang penasaran ingin membelinya, bisa menjumpai lokasinya, tepatnya di depan Pasar Balong. Bukanya mulai pukul 7 hingga 11 malam.
Kedua pemuda ini baru berjualan ramen gerobak di lokasi ini sudah sekitar 3 minggu lalu. Juga dibeberkan salah satunya Heri, alasan kepindahan ramennya ke pinggir jalan adalah belum adanya ramen gerobak di Cirebon.
“Kita baru buka disini (depan Pasar Balong) 3 minggu tapi kalau untuk jualannya sebenarnya sudah ada kurang lebih 3 bulanan. Dan tadinya kita di Bima cuma karena belum ada yang jualan ramen gerobak. Ini bisa menjadi peluang,” paparnya, Rabu (19/5).
Lokasi yang dipilih keduanya pun cukup unik. Sebab, di malam hari lokasi tersebut cukup sepi tidak seramai jalan Pekalipan.
Alasan sepi tersebutlah menjadi motivasi keduanya untuk membuka usaha di tempat tersebut. “Disini kan sepi dan kita ingin menghidupkan suasana di sini,” tuturnya.
Disisi lain Vicko rekan usaha Heri mengatakan, ramen gerobak milik mereka ini menjual 3 varian rasa ramen. Mulai dari rasa lokal, toripaitan, dan goreng.
Dengan harga yang cukup ramah di kantong ketiga ramen dijual seharga Rp.15.000 per porsi. Sedangkan, untuk toppingnya berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp6.000 per 3 pieces.
“Menu utamanya kita ada 3 macam ramen yang memang sudah kita sesuaikan dengan lidah lokal. Juga kita punya topping mulai dari cheese dumpling fish roll, beef kornet dan masih ada beberapa lagi ebeserta minumannya terdapat air mineral dan ocha (teh),” sebutnya
Dikatakannya, setiap ramen memiliki perbedaan masing-masing, khususnya diproses pembuatan kuah atau bumbu.
Untuk ramen lokal kuahnya menggunakan daging ayam yang direbus selama 4 sampai 5 jam.
Sedangkan, untuk Toripaitan yang memang merupakan ramen cita rasa Jepang yang sudah dilokalkan menggunakan rebusan dgaing ayam selama 8 sampai 10 jam.
“Ramen kita memang sudah kita sesuaikan dengan lidah lokal. Khususnya yang Toripaitan yang asli Jepang kita buat tetap creamy tapi masuk dilidah kita. Untuk kuahnya kenapa pakai daging ayam yang direbus berjam-jam tuh biar lebih terasa,” jelasnya.
Sedangkan, untuk ramen goreng sesuai namanya, tidak terdapat kaldu hanya saja terdapat paduan bumbu khusus nan rahasia.
Tak hanya sendirian, keduanya dibantu oleh kurang lebih 3 orang karyawan. Keduanya mengaku masih cukup kewalahan melayani pelanggan.
Alasan inilah yang menyebabkan keduanya belum menyediakan layanan gofood atau grabfood.
“Kita punya kurang lebih 3 orang karyawan. Tapi masih cukup kewalahan, makanya belum siap melayani orderan online. Walau hanya tinggal daftar tapi tetap maksimalkan yang ada dulu. Karena, melayani yang take away pun kewalahan,”ujarnya.
Yang jelas, untuk saat ini keduanya ingin fokus menjalankan yang ada dulu. Baru setelah berjalan lancar, dan stabil mereka akan mendaftarkan ke gofood atau grabfood. (Sarrah)

















































































































Discussion about this post