KEDAWUNG, (FC),- Siapa sangka karung goni bekas yang biasa digunakan sebagai kantong beras bisa menjadi produk fashion bernilai tinggi. Di tangan Asep Saefudin, wirausaha muda asal Cirebon Timur atau Cirtim, karung goni bisa dijadikan sepatu cantik.
Juga aneka produk lainnya seperti blangkon, tas kulit, dan gantungan wadah korek api yang dikombinasikan dengan bahan kulit dan kain batik.
Usaha fashion ini sudah digeluti Asep sejak 3 tahun lalu. Sebelum terjun ke bidang fashion, Asep yang memiliki dasar ilmu ekonomi pernah menggeluti usaha di bidang entertainment.
“Saya awalnya di dunia entertain teh, terus karena saya suka berdagang atau berniaga makanya saya fikir untuk usaha saja. Karena, saya cinta produk lokal terutama batik saya ingin batik dikenal baik oleh anak muda dan saya melihat peluang sepatu batik yang terbuka lebar,” ujar Asep, Sabtu (28/11).
Pria berusia 28 tahun ini menyebutkan bahwa, awal dari ide ini muncul dikarenakan melihatnya peluang di daerah Cirebon yang masih belum ada yang menjual sepatu batik ini, terlebih sepatu batik miliknya pun berbahan karung goni pula, yang memang jarang sekali sepatu berbahan karung goni.
Maka dari itu, dengan peralatan seadanya yaitu acuan sepatu dan alat jahit sepatu ia membuat sepatu dengan karung goni dan kain batik yang dalam perharinya pun ia dapat memproduksi sebanyak 50 pasang sepatu dan meraih jutaaan rupiah di setiap bulannya.
Akan tetapi, dikarenakan kondisi pandemi penjualan pun menurun. Terlebih, banyak penjualan yang dilakukan ke luar kota seperti area Jabodetabek yang merupakan salah satunya, sehingga lambat laun ia hentikan produksi sepatu tersebut untuk sementara.
“Pandemi kita berhenti produksi sepatu karena, memang bahannya pun cukup mahal dan susah dicari, jadi kalau lanjut produksi pasti kemungkinan rugi pun lebih besar. Kan insole luar sepatunya aja persatuannya itu 25 ribu paling murah sedangkan kita ambil yang 35 ribu karena untuk menjamin mutu dan kepercayaan pelanggan,” tutur Asep.
Makanya, sambungnya, produksi sepatu batik karung goni ini ia vacum atau tunda sejenak dan akan dilanjutkan ketika kondisi sudah membaik kembali, dan untuk saat ini sendiri Asep menjajal dunia tas kulit, dan gantungan tas kulit untuk wadah korek api yang diproduksi secara handmade.
“Ya, sekarang saya coba untuk produksi tas dan aksesoris seperti gantungan tas untuk korek api yang kita buat dari kulit asli dan dibuat langsung dengan tangan. Tapi, kita buat juga tas kulit dengan alat bantuan mesin,” kata Asep
Semuanya itu, lanjut Asep, bergantung permintaan konsumen yang ingin hand made atau yang biasa dengan mesin jahit. Karena, terdapat perbedaan dalam hasil dan kualitas serta kuantitas yaitu benang yang digunakan pada tas kuit yang handmade ini lebih tebal dan kuat yang pasti dengan kualitas terbaik, dan garis polanya pun lebih teratur, juga terjaga dibandingkan dengan mesin.
Meski begitu, tas dengan buatan mesin pun tidak kalah nilai jual karena memang terbuat dari kulit asli harganya pun tidak lah murah. Tetapi, cukup bagi masyarakat umum yang ingin membeli tas kulit tersebut.
Sebenarnya, sebelum mulai menjajal jahit tas kulit di masa pandemi ini, Asep sempat berjualan es jeli pelangi di lingkungannya dan dijual secara online selama beberapa bulan guna mempertahankan usaha dan bisnis yang ia miliki.
“saya jualan es jeli pelangi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mempertahankan bisnis, juga sembari memikirkan ide dan inovasi untuk usaha lagi dan akhirnya nemu ide untuk buat tas kulit baik yang buatan mesin dan buatan tangan,” ucapnya.
Dan akhirnya, lanjut Pria yang masih melajang ini, ia menciptakan tas kulit baik secara manual maupun mesin dengan kisaran harga untuk tas handmadenya 500 ribu rupiah, juga dengan aksesoris gantungan tas korek api dengan kisaran harga 25 ribu rupiah hingga 50 ribu rupiah. (Sarrah/Job/FC).












































































































Discussion about this post