KUNINGAN, (FC).- Pemerintah Kabupaten Kuningan terus mengakselerasi upaya penurunan angka stunting dengan menetapkan lima kecamatan sebagai lokus prioritas penanganan tahun 2026.
Kebijakan tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang dipimpin Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, di Ruang Rapat Sang Adipati, Gedung Sekretariat Daerah, Senin (21/4).
Lima kecamatan yang menjadi fokus intervensi yakni Cigandamekar, Garawangi, Selajambe, Cigugur, dan Cidahu. Penetapan lokus tersebut diharapkan mendorong intervensi yang lebih terarah, tepat sasaran, dan berdampak langsung di lapangan.
Rapat koordinasi dihadiri kepala perangkat daerah terkait, camat lokus stunting, kepala puskesmas, Tim Penggerak PKK, Tim Pendamping Keluarga (TPK), serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Dalam arahannya, Tuti yang akrab disapa Amih Tuti menegaskan penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara parsial. Menurut dia, dibutuhkan sinergi lintas sektor mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader, hingga masyarakat.
“Penanganan stunting harus menjadi fokus bersama. Tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus terintegrasi dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, stunting merupakan persoalan multidimensi yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari asupan gizi, kondisi sosial ekonomi, pola asuh keluarga, hingga sanitasi dan akses air bersih.
Karena itu, intervensi harus dilakukan secara komprehensif melalui pendekatan spesifik dan sensitif.
Upaya percepatan difokuskan pada kelompok prioritas, yakni remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita.
Program yang diperkuat di antaranya pemenuhan gizi seimbang, pemberian tablet tambah darah, pemeriksaan kesehatan rutin, serta edukasi perilaku hidup bersih dan sehat.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi gerakan bersama untuk menyiapkan generasi Kuningan yang sehat dan berkualitas,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, Edi Martono, mengungkapkan hasil pemeriksaan di lapangan masih menunjukkan sejumlah permasalahan kesehatan pada balita.
Beberapa di antaranya meliputi anemia, berat badan belum optimal, serta penyakit penyerta seperti tuberkulosis, infeksi saluran pernapasan, hingga kelainan kongenital.
“Permasalahan stunting ini kompleks, sehingga penanganannya juga harus menyeluruh,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kendala di lapangan, seperti keterbatasan anggaran untuk pemeriksaan lanjutan, termasuk skrining anemia dan pemeriksaan kecacingan, serta cakupan intervensi yang belum merata.
Meski demikian, berbagai intervensi terus diperkuat, baik intervensi spesifik seperti pemberian makanan tambahan, ASI eksklusif, dan pemantauan tumbuh kembang, maupun intervensi sensitif seperti peningkatan sanitasi, akses air bersih, serta penguatan program keluarga berencana.
Melalui koordinasi yang semakin intensif, Pemkab Kuningan berharap seluruh program percepatan penurunan stunting berjalan selaras dan memberikan hasil optimal dalam menyiapkan generasi sehat di masa mendatang. (Angga)















































































































Discussion about this post