KAB.CIREBON, (FC).- Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) menggencarkan kegiatan surveilans tuberkulosis (TBC) dengan melakukan skrining keliling ke desa-desa.
Program tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan lembaga non-pemerintah atau NGO.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Hj Eni Suhaeni melalui Kepala Bidang P2P, Mona Isabella Saragih, mengatakan sasaran skrining merupakan kelompok berisiko tinggi tertular TBC.
Kelompok tersebut meliputi kontak serumah penderita TBC, kontak erat seperti teman bergaul dan lingkungan sekitar, anak dengan gizi buruk atau stunting, serta warga dengan penyakit penyerta seperti diabetes.
Menurut Mona, kegiatan itu didukung kader penjangkau yang dibentuk bersama mitra NGO. Para kader menerima data penderita TBC dari puskesmas, kemudian mendatangi rumah pasien dan membagikan undangan kepada keluarga maupun warga sekitar untuk mengikuti pemeriksaan di balai desa.
“Semua anggota keluarga dan kontak erat diminta datang ke balai desa untuk dilakukan skrining TB paru,” ujarnya, Senin (20/4).
Ia menjelaskan, warga yang menunjukkan gejala klinis seperti batuk berkepanjangan atau dicurigai terpapar TBC akan diarahkan menjalani pemeriksaan rontgen.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyediakan tiga unit mobil X-ray keliling. Hasil foto rontgen dapat dibaca awal menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI), lalu dipastikan kembali diagnosisnya oleh dokter puskesmas.
Tahap pertama program dijadwalkan berlangsung di 60 puskesmas selama 18 hari. Setiap hari, tiga mobil rontgen diterjunkan ke tiga desa berbeda. Saat ini kegiatan disebut telah memasuki hari ketujuh pelaksanaan.
Mona menambahkan, pihaknya juga menemukan anak usia 9 tahun yang masuk kategori suspek TBC dan langsung mendapat terapi pencegahan TBC (TPT) selama tiga bulan. Obat tersebut disediakan gratis oleh Dinas Kesehatan.
Ia menegaskan, program skrining massal ini menjadi bagian dari target eliminasi TBC pada 2030 atau Zero TB.
Karena itu, cakupan penjangkauan terus diperluas dengan mendatangi langsung desa-desa yang memiliki kasus cukup tinggi.
Untuk capaian peserta, target pemeriksaan per puskesmas ditetapkan 200 orang per hari. Namun realisasi sementara masih berkisar 90 hingga 120 orang. Meski demikian, tingkat kehadiran undangan disebut mencapai sekitar 70 persen.
Menurut dia, salah satu kendala adalah pelaksanaan kegiatan pada jam kerja, sehingga warga usia produktif yang masuk kategori kontak erat belum seluruhnya bisa hadir.
Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat, khususnya kontak serumah, kontak erat, serta warga dengan penyakit penyerta seperti diabetes, agar datang ke puskesmas atau mengikuti jadwal skrining berikutnya demi deteksi dini TBC. (Ghofar)









































































































Discussion about this post