KUNINGAN, (FC).- Kementerian Agama Kabupaten Kuningan mengajak masyarakat untuk tidak terjebak pada kemewahan dalam pernikahan.
Fokus utama dinilai bukan pada pesta, melainkan kesiapan membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuningan, Ahmad Handiman Romdoni melalui Kasi Bimas Islam, Ahmad Syahid Ridlo Maulana, mengatakan tren pernikahan di Kabupaten Kuningan mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi itu dipengaruhi faktor ekonomi dan perubahan pola pikir masyarakat.
“Sekarang banyak yang menunda pernikahan karena mempertimbangkan kesiapan, baik dari sisi ekonomi maupun pendidikan. Ini menjadi fenomena yang terjadi di masyarakat,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (20/4).
Ia menegaskan, kemewahan dalam resepsi bukan penentu kebahagiaan rumah tangga. Menurut dia, kesederhanaan dalam akad nikah justru dapat membantu pasangan lebih fokus menyiapkan kehidupan setelah menikah.
“Tidak ada keharusan menikah harus mewah. Yang terpenting adalah kesiapan membangun rumah tangga. Jangan sampai habis energi dan biaya di acara, tapi lupa mempersiapkan kehidupan setelahnya,” katanya.
Untuk mendukung hal itu, Kementerian Agama Kabupaten Kuningan menyediakan fasilitas akad nikah di sejumlah KUA yang representatif dan dapat dimanfaatkan masyarakat secara sederhana namun tetap khidmat.
Selain itu, calon pengantin diwajibkan mengikuti bimbingan perkawinan atau bimwin sebagai bekal memasuki kehidupan rumah tangga.
Dalam program tersebut, pasangan diberikan materi pengelolaan keuangan, komunikasi keluarga, hingga penyelesaian konflik.
“Bimwin ini penting. Kami tidak hanya membahas prosesi akad, tapi juga bagaimana menjalani kehidupan setelah menikah. Saling memahami dan menerima pasangan menjadi kunci,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam pernikahan terdapat sejumlah pilar penting yang harus dipahami pasangan, di antaranya komitmen, tanggung jawab, serta kesiapan mental dan emosional.
Kemenag berharap masyarakat memaknai pernikahan sebagai ibadah dan komitmen jangka panjang, bukan sekadar seremoni sesaat.
“Yang lebih penting bukan hanya hari pernikahannya, tetapi bagaimana perjalanan rumah tangga ke depan. Di situlah letak keberhasilan sebuah pernikahan,” tegasnya. (Angga)









































































































Discussion about this post