KOTA CIREBON, (FC).- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, yang diperkirakan terjadi sepanjang Tahun 2026.
Hal ini menyusul rilis prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan adanya peralihan musim dari penghujan ke kemarau dalam waktu dekat.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cirebon, Andi Wibowo menjelaskan hingga akhir Maret dan memasuki April 2026, wilayah Kota Cirebon masih berada dalam fase hidrometeorologi basah.
Kondisi ini ditandai dengan potensi hujan lebat, angin kencang, serta kemungkinan terjadinya banjir di sejumlah titik.
“Berdasarkan informasi dari BMKG, saat ini hingga April masih masuk periode hujan. Artinya, masyarakat tetap harus waspada terhadap cuaca ekstrem seperti hujan intensitas tinggi dan potensi banjir,” ujar Andi, Senin (30/3).
Memasuki bulan April, lanjut Andi, Cirebon diprediksi mulai beralih ke musim kemarau. Bahkan, puncak musim kering diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, dengan durasi yang disebut lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Dari rilis BMKG, musim kemarau tahun ini diprediksi lebih lama. Puncaknya diperkirakan terjadi pada bulan Agustus, dan ada potensi kekeringan serta suhu panas yang cukup ekstrem,” jelasnya.
Belajar dari pengalaman tahun sebelumnya, BPBD Kota Cirebon telah menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi kekeringan.
Pada 2025 lalu, pemerintah daerah tercatat menyalurkan hampir 350 ribu liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan, khususnya di wilayah Kelurahan Argasunya.
Wilayah tersebut, yang berada di Kecamatan Harjamukti, menurut Andi, kembali menjadi prioritas dalam penanganan kekeringan tahun ini.
“Secara historis, wilayah Argasunya masih menjadi daerah rawan kekeringan. Maka, fokus mitigasi kami tetap di sana, meskipun wilayah lain juga terus kami pantau,” kata Andi.
BPBD pun mengimbau masyarakat untuk tidak lengah dalam menghadapi dua potensi bencana berbeda dalam waktu berdekatan, yakni banjir di musim hujan dan kekeringan saat kemarau.
“Dengan kondisi cuaca yang dinamis, masyarakat diharapkan dapat terus memantau informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi,” pungkas Andi. (Agus)

















































































































Discussion about this post