KOTA CIREBON, (FC).- Dugaan adanya makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah basi dan di dalamnya ditemukannya ulat, di SDN Argapura, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, ternyata bukan kejadian pertama.
Kepala SDN Argapura Moh Syafei saat dikonfirmasi wartawan membenarkan hal tersebut. Sebelumnya, kata dia, pihak sekolah juga pernah menemukan menu makanan MBG dalam kondisi tidak layak konsumsi.
“Sebelumnya pernah, cuma enggak terlalu heboh. Karena sempat saya cicipi dulu, pas dicoba itu masakan jamurnya sudah bau,” ujarnya, Senin (3/11).
Ia menyebut, saat itu jamur yang menjadi salah satu lauk MBG memiliki aroma tidak sedap dan rasa yang aneh.
“Iya bau, terus rasanya nggak enak, bau jamurnya itu. Makanya saya langsung bilang, tolong yang menyediakan bertanggung jawab, dan kepada murid saya bilang jamurnya jangan dimakan,” ucapnya.
Menurutnya, kejadian kali ini menjadi ramai dan menjadi viral, karena video temuan makanan basi dan ulat di SDN Argapura terlanjur beredar luas di berbagai grup media sosial.
“Kebetulan hari ini saya puasa, jadi enggak sempat ngecek. Tapi yang tahu pertama itu ibu guru dan petugas yang lagi kontrol. Mereka yang lihat kalau makanannya bau dan ada ulatnya,” jelas dia.
Ia menjelaskan, makanan yang tercium bau basi langsung diamankan oleh pihak sekolah dan dibawa ke penyedia MBG sebagai bentuk laporan. “Makanya langsung dimasukkan ke wadah dan dibawa ke pihak MBG,” katanya.
Namun, yang disayangkan, menurut Syafei, pihak MBG justru ikut menyebarkan informasi terkait temuan tersebut ke berbagai pihak.
“Pihak MBG-nya malah menyebarkan sendiri. Padahal seharusnya dirahasiakan dulu. Malah seperti membongkar aibnya sendiri,” ujarnya.
Terkait langkah yang diambil sekolah, Syafei menegaskan, pihaknya hanya menghentikan pembagian makanan yang terbukti basi. Menu lainnya tetap diberikan jika dinilai aman.
“Kalau yang bau-nya ya stop, tapi yang lain aman,” ucap Syafei.
Lebih lanjut, Syafei berharap pihak penyedia MBG dan koperasi sekolah bisa lebih teliti, dan memperhatikan waktu memasak agar makanan tetap segar hingga ke tangan siswa.
“Harapannya pihak MBG atau koperasi harus teliti lah. Dengan adanya aduan-aduan seperti ini, jangan sampai sembarangan. Masaknya juga jangan terlalu malam, nanti bisa basi,” kata dia.
Sebelumnya, beredar sebuah video memperlihatkan seorang wali murid di SDN Argapura menegur pihak penyedia Makan Bergizi (MBG) karena diduga memberikan makanan basi dan ditemukan ulat.
Video berdurasi sekitar 35 detik itu memperlihatkan Mila, Wali Murid kelas 1 SDN Argapura, yang menunjukkan kondisi makanan MBG yang dibawanya di ruang kelas.
“Sebelum dibagiin ke anak-anak itu, kita sudah ngecek dulu. Pas dibuka itu sudah tercium bau basi. Saya sampai bilang ke anak-anak jangan dimakan, tolong jangan dimakan sayurannya. Pas dicek, memang basi semua ini,” tambahnya.
Mila juga mengaku menemukan seekor ulat di salah satu menu sayur kacang panjang. “Ada ulatnya, besar di sayur kacang. Kemungkinan dari kacangnya itu,” jelasnya.
Ia mengatakan, makanan itu belum sempat dimakan oleh siswa karena sudah lebih dulu dicegah. “Belum sempat dimakan sama anak-anak, karena saya sudah wanti-wanti. Sudah tercium bau basi, jadi saya larang mereka makan,” ujarnya.
Mila berharap pihak penyedia MBG lebih memperhatikan kualitas dan kebersihan makanan yang diberikan kepada siswa.
“Program makan bergizi ini kan seharusnya untuk menjaga kesehatan anak-anak, bukan malah membahayakan. Jadi mohon lebih diperhatikan lagi,” tandasnya.
Membenarkan Adanya Laporan Makanan MBG yang Diduga Basi
Sementara itu, pihak penyedia MBG yakni, Kepala SPPG Kalijaga 2, Alvin Raka, membenarkan adanya laporan makanan MBG yang diduga basi. Namun, ia menegaskan bahwa seluruh proses memasak hingga distribusi sudah dilakukan sesuai prosedur.
“Dalam hal ini dapur kami memang terdeteksi ada makanan basi. Padahal, dari dapur kami sendiri masak itu sudah sesuai prosedur. Kami mulai masak jam 3 pagi dan matang jam 4,” ujar Alvin saat ditemui media, Senin (3/11).
Alvin menjelaskan, distribusi makanan dilakukan pada pukul 07.00 pagi. Sebelum dikirim ke sekolah, pihaknya juga sudah melakukan uji organoleptik terhadap bau, rasa dan tampilan makanan.
“Sebelum berangkat distribusi, kami sudah menguji organoleptik dari bau, rasa dan tampilan. Aman-aman saja. Mungkin karena tertutup atau masa waktu yang sudah panjang, jadi terjadi makanan basi ini,” ucapnya.
Terkait temuan ulat di salah satu menu, Alvin menduga hal itu berasal dari bahan sayur yang digunakan, bukan dari proses pengolahan.
“Kalau ulat, mungkin itu dari kacang panjang. Karena dapur kami tidak menggunakan pestisida, kacang panjangnya organik. Jadi, kemungkinan di situ ada ulat,” jelas dia.
Meski begitu, Alvin memastikan bahan makanan yang digunakan sudah dibersihkan sebelum dimasak.
“Sudah dibersihkan, mungkin karena terlewat atau bagaimana. Tapi untuk ke depan, dapur kami akan berusaha lebih baik lagi dan kualitasnya bakal ditingkatkan,” katanya.
Ia menambahkan, pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon juga telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa lebih lanjut.
“Sudah, dari Dinkes sudah mengambil sampel,” ujarnya.
Untuk sementara, pihak dapur mengimbau agar makanan yang sempat dikirim ke SDN Argapura tidak dikonsumsi terlebih dahulu.
“Tadi diarahkan untuk tidak dikonsumsi untuk hari ini,” ucap Alvin.
Alvin menyebut, dapur SPPG Kalijaga 2 setiap harinya menyalurkan sekitar 3.300 porsi makanan bergizi ke 14 sekolah di wilayah Kelurahan Kalijaga dan Argasunya, Kota Cirebon.
“Untuk di SDN Argapura ini ada sekitar 470 porsi. Secara keseluruhan tidak ada masalah, tapi kami tetap akan evaluasi,” tegasnya.
Di sisi lain, dokter dari Puskesmas Sitopeng, dr. Eko Dewantoro, turut memeriksa kondisi makanan tersebut. Ia membenarkan adanya aroma yang menunjukkan indikasi pembusukan pada sayuran.
“Hanya bagian sayurnya saja yang bermasalah. Kami akan mengambil sampel dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.
Puskesmas juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan segera melapor jika menemukan makanan yang dicurigai tidak layak konsumsi.
“Jika dikonsumsi, makanan basi dapat memicu gangguan pencernaan seperti diare,” tutup dr. Eko. (Agus)















































































































Discussion about this post