KAB.CIREBON, (FC).- Kabar duka menyelimuti masyarakat Cirebon. Ulama kharismatik, KH Usamah Manshur wafat. Meninggalkan duka mendalam yang bukan hanya dirasakan keluarga besar pesantren Annasuha Desa Kalimukti Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon, tetapi juga masyarakat wilayah timur Kabupaten Cirebon yang pernah merasakan semangat perjuangan beliau dalam mewujudkan CDOB Kabupaten Cirebon Timur.
Almarhum dikenal bukan hanya sebagai guru agama yang istiqamah membimbing umat dalam ilmu dan akhlak, melainkan juga sebagai tokoh yang konsisten memperjuangkan keadilan sosial, khususnya dalam isu pemekaran Cirebon Timur.
Sepanjang hidupnya, KH Usamah Manshur kerap menyuarakan pentingnya pemerataan pembangunan di wilayah timur Cirebon. Baginya, pemekaran bukanlah ambisi politik semata, melainkan kebutuhan nyata masyarakat yang merasa jauh dari jangkauan pusat pemerintahan di Sumber.
Dengan penuh kearifan, beliau menekankan bahwa pemekaran adalah jalan untuk menghadirkan keadilan, bukan perpecahan. Pandangan inilah yang membuatnya dihormati, karena perjuangan yang disampaikan selalu berpijak pada keikhlasan dan kepedulian terhadap rakyat kecil.
Tokoh muda Cirebon, R Hamzaiya, menyampaikan rasa duka cita mendalam sekaligus penghormatan atas peran besar KH Usamah Manshur. Menurutnya, kepergian almarhum adalah kehilangan yang sulit tergantikan.
“Kepergian Kiai Usamah Manshur bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan santri, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Cirebon Timur. Beliau adalah ulama sekaligus tokoh moral yang selalu menyalakan semangat perjuangan agar masyarakat timur tidak terus tertinggal. Pemekaran yang kita suarakan hari ini tidak bisa dipisahkan dari doa, nasihat, dan dukungan beliau sejak awal,” ujar Hamzaiya.
Hamzaiya menegaskan bahwa keteladanan Kiai Usamah harus dijaga sebagai warisan berharga. Ia mengingat kembali pesan almarhum agar perjuangan selalu dilandasi persatuan.
“Beliau sering berkata bahwa pemekaran ini bukan untuk segelintir orang, tetapi untuk anak cucu kita. Pesan inilah yang harus kita teruskan,” tambahnya.
Namun, semangat yang diwariskannya diyakini tidak akan padam. Kepergiannya justru menjadi pengingat bahwa perjuangan pemekaran Cirebon Timur belum selesai dan harus diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Mari kita jaga warisan perjuangan Kiai Usamah Manshur. Mari kita teruskan semangat dan doa beliau, agar kelak Cirebon Timur benar-benar bisa berdiri sebagai daerah yang adil, maju, dan sejahtera. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah almarhum dan menempatkannya di sisi terbaik-Nya,” tutup Hamzaiya.
Sementara itu, tokoh masyarakat sekaligus aktivis Cirebon Timur, H Dade Mustofa, juga menyampaikan rasa kehilangan mendalam. Menurutnya, Kiai Usamah bukan hanya pejuang pemekaran, tetapi juga ulama yang dekat dengan rakyat kecil.
“Beliau selalu hadir di tengah masyarakat, membimbing santri, memberikan tausiyah dengan kelembutan, dan mengajarkan pentingnya akhlak mulia. Karakter tawadhu beliau membuatnya diterima semua kalangan,” kata Dade.
Kini, dengan berpulangnya Kiai Usamah Manshur, masyarakat Cirebon kehilangan sosok ulama panutan sekaligus tokoh perjuangan.
Wafatnya Kiai Usamah Manshur adalah kehilangan besar bagi masyarakat Cirebon, namun semangat dan perjuangannya akan tetap hidup dalam denyut nadi warga Cirebon Timur. (Nawawi)














































































































Discussion about this post