KAB.CIREBON, (FC).- Warga Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon resah dengan munculnya kembali semburan air lumpur beraroma gas yang oleh warga setempat dikenal sebagai kawah.
Fenomena alam ini sempat ditutup pada 2021 kini kembali memicu keresahan, terutama bagi petani dan warga yang bermukim di sekitarnya banyak perangkat elektronik milik warga rusak dan hewan mati.
Kawah tersebut berada ketinggian dengan diameter lebih dari lima meter. Air di dalam kolam tampak terus bergolak menyerupai air mendidih, meski tidak ditemukan sumber panas di permukaan. Lokasinya pun cukup dekat dengan area persawahan warga, hanya berjarak sekitar 10 meter.
Yunus, ketua RW 7 mengatakan, bahwa keberadaan kawah tersebut bukanlah hal baru bagi warga setempat. Fenomena itu telah ada sejak lama dan bahkan dimanfaatkan pada masa lalu.
“Ini sudah ada sejak dulu, bahkan dari zaman nenek moyang kami. Dulu sempat dimanfaatkan oleh pabrik kapur dan odol tapi sekarang dibiarkan begitu saja,” ujar Yunus, Sabtu (20/12).
Namun, seiring tidak adanya pengelolaan, dampak kawah kini semakin dirasakan warga. Bau menyengat menyerupai gas dan belerang kerap tercium hingga radius sekitar satu kilometer, tergantung arah angin, terutama menuju Blok Sawadeket dan Blok Gambir.
“Warga yang setiap hari berada di sini lama-lama bisa merasakan sesak napas. Banyak yang terkena ISPA. Dampak paling parah dirasakan para petani karena sawah di sekitar kawah diduga terkontaminasi belerang yang terbawa air dan gas,” katanya.
Yunus menjelaskan, pada awalnya tanaman padi tampak tumbuh normal. Namun ketika mulai berbuah, hasil panen justru menurun drastis.
“Dulu seperempat hektare sawah bisa menghasilkan tujuh sampai delapan kuintal. Sekarang tiga sampai empat kuintal saja sudah berat,” sebutnya.
Selain merugikan sektor pertanian, gas belerang juga berdampak pada peralatan rumah tangga warga. Yunus menyebut peralatan elektronik di lingkungan sekitar kawah cepat mengalami kerusakan akibat korosi.
“Barang elektronik di sini cepat sekali berkarat. Baru satu atau dua tahun sudah rusak, saya saja sudah dua tv rusak,” tambahnya.
Ia juga menuturkan bahwa aktivitas kawah cenderung berubah mengikuti musim. Pada musim kemarau, kawah lebih banyak mengeluarkan gas, sementara saat musim hujan terjadi semburan lumpur akibat dorongan gas dari bawah.
“Kalau kemarau hanya keluar gas. Kalau musim hujan, air masuk ke lubang lalu terdorong gas dari bawah, sehingga terlihat seperti menyembur,” jelasnya.
Kuwu Desa Cipanas, Maman Sudirman membenarkan, bahwa kawah tersebut telah ada sejak sekitar tahun 1960-an dan pernah dimanfaatkan oleh industri pada masanya.
“Dulu gasnya digunakan untuk menetralisir kapur. Tapi setelah pabrik berhenti beroperasi, kawah ini tidak pernah ditangani lagi,” ujar Maman.
Ia juga menegaskan, bahwa gas yang keluar dari kawah tersebut bukan termasuk gas yang mudah terbakar. “Kalau terkena api justru mati,” tuturnya.
Maman menambahkan, kawah Cipanas sempat menjadi sorotan nasional pada 2021 hingga 2022 setelah viral di media sosial. Namun hingga kini belum ada penanganan lanjutan dari pihak terkait.
“Padahal dampaknya langsung dirasakan warga, terutama dari sisi kesehatan dan ekonomi, semoga saja pejabat ahli yang berwenang segera turun dan meninjau kesini,” pungkas Maman. (Johan)

















































































































Discussion about this post