MAJALENGKA, (FC),- Puluhan hektar sawah di wilayah Kabupaten Majalengka, rusak parah diserang hama tikus. Akibatnya, para petani mengaku merugi jutaan rupiah. Selain hama tikus, faktor kurangnya pasokan air yang menjadi andalan menumbuhkan padi juga turut meresahkan petani setempat. Bahkan, sebagian petani mengaku gagal panen.
Seperti yang dialami oleh para Taryan (53), petani di Desa Ligung Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, mengaku, dirinya baru sekitar satu bulan menanam padi. Namun, karena diserang hama tikus, tanaman padi seluas 1 hektar pun habis sebagian, karena dimakan tikus.
“Padahal kami sudah berupaya untuk memberantas hama tikus ini, pakai cara dibasmi dengan racun atau grebek tikus juga kami lakukan, tapi susah,” ujar Taryan saat diwawancarai media, Kamis (1/8).
Bukannya hilang, kata dia, hama tikus justru makin merajalela merusak tanaman padi. Waktu panen yang berbeda dengan petani di daerah lain membuat tikus-tikus yang kerap beraksi pada malam hari itu terus berdatangan dan merusak.
“Sebagian wilayah Ligung ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Indramayu, nah kami punya waktu berbeda panennya dengan mereka. Kalau di Indramayu mengolah lahan, otomatis tikusnya pada ke kita yang sedang mulai menanam padi,” ucapnya.
Selain diserang hama tikus, petani juga dihadapi dengan kurangnya aliran air mengalir sawah. Akibatnya, sawah- sawah dilanda kekeringan dan terancam gagal panen.
“Nah selain hama, sawah di sini tuh kurang air, biasanya air dari Bendung Kamun Kadipaten mengalir ke irigasi Dawuan tapi sekarang kosong. Karena gagal panen, kami bisa rugi Rp 5-6 juta per hektarnya,” jelas dia.
Terpisah, Pamong Desa Wanasalam Kecamatan Ligung, Warkilah menyampaikan, sedikitnya 20 hektar hektar sawah yang berada di wilayahnya terserang hama tikus. Hal itu juga berakibat pada aktivitas panen yang bakal gagal.
“Ada 20 hektar sawah di kami yang terserang hama tikus dan terancam ada yang bakal gagal maupun gagal panen.
Masyarakat tentunya mengeluhkan kondisi seperti ini,” kata Warkilah.
Pantauan di lokasi, kekeringan juga mengakibatkan kontur tanah retak-retak dan tanaman padi telah mati. Dari banyaknya sawah di wilayah Kecamatan Ligung, dikabarkan sedikitnya 50 hektar terpaksa tidak ditanami padi akibat sulitnya mendapatkan air.
“Tanaman padi yang gagal akibat kekeringan juga mencapai 60 persen. Kami berharap, ada perhatian dari pemerintah agar bisa membantu para petani, sehingga tak lagi mengalami kekurangan air dan terhindar dari hama tikus. Selain itu juga, agar petani bisa kembali menggarap sawah tanpa kekurangan air dan serangan tikus,” ujarnya. (Munadi)












































































































Discussion about this post