Strategi kultural merupakan suatu strategi yang berkaitan dengan cultural approach. Suatu strategi yang bersumber pada nilai-nilai lokal. Strategi kultural adalah sebuah upaya penanganan yang memungkinkan terjadinya cultural shift.
Mengajak masyarakat untuk beralih dari pola kebudayaan lama ke pola kebudayaan new normal. Pola kebudayaan yang dapat meminimalisir dampak pandemi bagi seluruh aspek kehidupan manusia.
Strategi budaya adalah bidang praktik dan pembelajaran yang melibatkan semua aspek kehidupan budaya dan semua jalan pembuatan perubahan sosial untuk mengubah masyarakat untuk masa depan yang adil, layak, dan membebaskan.
Strategi budaya sangat diperlukan untuk membangun gerakan sosial karena itu menciptakan kondisi untuk perubahan budaya yang berkelanjutan. Strategi kebudayaan memiliki panduan yang mencerminkan sebuah gerakan yang bersumber dari sumber daya kultural.
Setidaknya ada 10 strategi dalam mencanangkan strategi kultural (Gorman,2018):
Pertama, Pengintegrasian pekerja seni. Perubahan budaya tidak mungkin tanpa seniman dan seni mereka.
Artis yang terkenal mungkin membantu meningkatkan profil dan visibilitas gerakan kultural tetapi jauh lebih penting untuk melibatkan artis yang memiliki kepedulian terhadap sasaran perubahan di masyarakat itu dan idealnya artis tersebut berasal dari komunitas obyek sasaran
Kedua, Setiap strategi kultural harus memiliki visi, nilai dan pandangan dunia. Strategi budaya memungkinkan kita untuk memandang ke masa depan, membayangkan dan mengatakan apa tujuan gerakan ini dan nilai-nilai yang akan membawa gerakan ini sukses di masa depan.
Ketiga, Pergeseran kekuasaan. Strategi budaya mengkatalisasi transformasi struktur dan hierarki kekuasaan yang menindas.
Strategi ini berfokus pada pergeseran dan redistribusi kekuasaan dengan mengisi cerita, narasi, seni, kiasan budaya, praktik dan ide-ide yang secara aktif mengganggu struktur kekuasaan yang dominan.
Para aktivis strategi budaya memahami ekosistem gerakan dan sasarannya secara holistik yang mendukung perubahan yang luas dan terukur, dan harus bekerja sama dengan mitra mereka di bidang pengorganisasian, media, aksi langsung, kebijakan, pendidikan, aksi pemilu, perubahan naratif, budaya pop, kewirausahaan sosial, pembangunan koalisi , dan di tempat lain.
Keempat, Pergeseran narasi. Pergeseran naratif sangat penting untuk strategi budaya, dan ahli strategi budaya dan pekerja yang terampil, harus memahami desain naratif.
Ini melibatkan kemampuan untuk secara eksplisit menyebutkan bingkai narasi yang dominan, mengidentifikasi alur cerita yang memajukan atau mengganggu narasi, dan membuat cerita menarik yang membawa pesan untuk tujuan strategi kultural mereka.
Kelima, Strategi kultural memuat sebuah temuan dan penyebarluasannya. Ekspresi artistik atau kreatif dan karya budaya merupakan inti dari perubahan sosial; mereka memungkinkan kita untuk merasakan pada tingkat emosional, fisik, dan spiritual.
Strategi Budaya berfokus pada penciptaan kondisi untuk penemuan, pembelajaran pengalaman dan pendalaman artistik versus hanya berfokus pada ide, cerita, atau penyebaran pesan.
Keenam, Prefigurasi. Prefigurasi adalah kemampuan untuk membuat dan mewujudkan realitas masa depan seolah-olah mereka sudah ada sekarang.
Ini memerlukan latihan menjalani masa depan yang kita inginkan di masa sekarang, misalnya mencoba struktur kepemimpinan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan tim dan komunitas.
Ketujuh, Penciptaan masalah dan deskripsinya. Strategi budaya mendefinisikan dan menguraikan masalah dengan jelas, mengubah paradigma dominan, menghubungkan audiens, dan secara mendasar menetapkan ketentuan debat.
Strategi budaya adalah dasar untuk membangun gerakan karena dalam mendefinisikan suatu masalah, strategi ini mengidentifikasi siapa pemangku kepentingan dan orang-orang yang terkena dampak, dan menarik hubungan antara kelompok-kelompok yang tertutup untuk mendukung perubahan struktural dan sistemik.
Kesembilan, Berpegang teguh dan keberlanjutan gerakan kultural. Strategi budaya membutuhkan stamina dan kemampuan beradaptasi untuk jangka panjang. Berpegang teguh dan keberlanjutan pada suatu gerakan kultural membutuhkan: investasi dalam infrastruktur, misalnya kompensasi penuh dan posisi permanen untuk seniman dan pekerja budaya, dan membina hubungan yang dalam dan tahan lama.
Kesepuluh, Integrasi kelembagaan. Banyak orang yang bergerak melakukan kampanye atau proyek perubahan budaya yang indah dan menginspirasi sering kali dengan rencana diseminasi yang memungkinkan mereka menjangkau jauh dan luas.
Namun, ini bukan strategi budaya, ini adalah keluaran eksternal, terlihat, pada tindakan konstituen atau anggota untuk membuat karya budaya, misalnya pertunjukan, mural, sastra, acara seni, spanduk, dan lainnya.
Jenis integrasi seni ini merupakan komponen utama dari strategi budaya; namun, ada juga kebutuhan untuk komponen yang kurang seksi, kurang terlihat tetapi sama pentingnya dari strategi budaya, yaitu perubahan internal organisasi.
Strategi budaya yang efektif harus dipahami, terintegrasi dan benar-benar berakar pada operasi dan praktik organisasi. Bagaimana nilai, visi, dan hasil perubahan yang ditunjukkan secara eksternal terwujud secara internal?
Keseluruh komponen strategi budaya memiliki kekuatan dalam melengkapi strategi intervensi sosial dalam penanganan gelombang ketiga pandemic Covid-19.
Seluruh sumber daya gerakan baik berupa intervensi sosial dari pemerintah maupun strategi kultural dari bawah (bottom up strategy) harus diintegrasikan.
Integrasi strategi kultural dan intervensi sosial pemerintah akan membuat penanganan gelombang ketiga pandemi Covid-19 akan menjadi lebih mudah. Menghadapi gelombang ketiga pandemi Covid-19 menjadi tugas seluruh anak bangsa. Melibatkan integrasi perjuangan struktural-formal dan kultural.***
Oleh: Subandi
(Aktivis PCNU Indramayu)















































































































Discussion about this post