KAB.CIREBON, (FC).- Berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat kecil menjadi sorotan dalam Halaqah Pra-Musyawarah Besar (Mubes) Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Pondok Pesantren Khatulistiwa Kempek, Kabupaten Cirebon, Senin (1/6).
Forum tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus wadah menyerap aspirasi masyarakat akar rumput yang tengah menghadapi tekanan ekonomi dan sosial.
Mengusung tema “NU dan Krisis Kehidupan Rakyat: Mendengar Suara Akar Rumput dan Ketahanan Warga NU di Tengah Krisis Ekonomi, Sosial, dan Kebijakan Negara”, kegiatan itu membahas beragam persoalan yang membelit kelompok masyarakat bawah, mulai dari petani, nelayan, pedagang kecil, guru honorer, hingga keluarga buruh migran.
Pengasuh Pesantren Manhaj Luhur Fahmina Cirebon, KH Marzuki Wahid, menegaskan bahwa NU perlu terus memastikan keberpihakannya kepada masyarakat kecil yang selama ini menjadi basis sosial organisasi tersebut.
Menurutnya, masyarakat saat ini menghadapi berbagai tekanan yang saling berkaitan. Petani masih bergulat dengan persoalan kelangkaan dan tingginya harga pupuk, sementara harga hasil panen kerap tidak memberikan keuntungan yang memadai.
Di sektor perikanan, nelayan menghadapi penurunan hasil tangkapan yang dipengaruhi kondisi lingkungan dan berbagai faktor lainnya.
“Pertanyaan yang perlu dijawab bersama adalah apakah NU masih cukup dekat dengan kegelisahan rakyat kecil dan mampu menjadi ruang perlindungan bagi mereka di tengah berbagai persoalan yang dihadapi saat ini,” ujarnya.
Selain itu, kondisi serupa juga dirasakan pedagang kecil yang menghadapi penurunan daya beli masyarakat. Guru honorer masih berjuang memperoleh kesejahteraan yang layak, sementara keluarga buruh migran harus menghadapi berbagai tantangan ekonomi maupun sosial.
Marzuki menilai halaqah tersebut bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang untuk mendengarkan secara langsung pengalaman dan suara masyarakat yang sehari-hari merasakan dampak kebijakan maupun perubahan kondisi ekonomi.
Kegiatan itu diikuti berbagai unsur masyarakat, mulai dari petani, nelayan, pedagang kaki lima, guru, santri, akademisi, pendamping buruh migran, aktivis sosial, hingga warga NU dari sejumlah daerah di wilayah Cirebon Raya.
Melalui forum tersebut, peserta diharapkan dapat merumuskan berbagai rekomendasi dan langkah konkret untuk memperkuat solidaritas sosial serta meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat di tengah tantangan yang terus berkembang.
Selain KH Marzuki Wahid, halaqah menghadirkan sejumlah narasumber, yakni A Syatori, Ridwan BJ, Nurlaeli, Ja’faruddin, Usman Efendi, Saadah, dan Muhammad Jaenuri. Diskusi dipandu oleh Akbaruddin Sucipto.
Panitia juga membuka ruang partisipasi seluas-luasnya bagi warga NU, mahasiswa, guru, dosen, organisasi perempuan, organisasi kepemudaan, aktivis lingkungan, serta masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap persoalan rakyat dan masa depan gerakan NU.
Hasil pembahasan dalam halaqah tersebut diharapkan menjadi masukan bagi agenda Musyawarah Besar NU sekaligus memperkuat peran organisasi dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di tingkat akar rumput. (Johan)












































































































Discussion about this post