KOTA CIREBON, (FC).- Direktorat Pemberdayaan Informatika, Ditjen Aplikasi Informatika kembali memfasilitasi karya TIK terbaik dari Indonesia di ajang ASEAN ICT Awards (AICTA) Tahun 2022, suatu inisiatif dan program di bawah ASEAN ICT Masterplan 2025.
AICTA sendiri merupakan ajang pengakuan terhadap karya TIK terbaik di seluruh wilayah ASEAN, yang bertujuan sebagai tolok ukur kesuksesan dalam hal inovasi dan kreatifitas.
AICTA menawarkan kesempatan bisnis dan mempromosikan hubungan dagang sehingga dengan demikian meningkatkan kekuatan sektor teknologi dan informatika di wilayah ASEAN dan internasional. AICTA juga menjadi sarana untuk mempromosikan karya TIK negara-negara ASEAN ke tingkat global.
AICTA mengapresiasi inovasi dan kreatifitas karya TIK pada enam kategori, yaitu Public Sector, Private Sector, Corporate Social Responsibility (CSR), Digital Content, Start-Up Company dan Research and Development.
Layanan Cirebon Siaga 112 merupakan layanan nomor tunggal panggilan darurat milik Pemerintah Daerah (Pemda) Kota Cirebon. Melalui layanan ini, masyarakat bisa melaporkan keadaan darurat.
Contoh layanan kedaruratan tersebut, seperti kebakaran, kerusuhan, kecelakaan, bencana alam, penanganan masalah kesehatan, gangguan keamanan dan ketertiban umum, dan keadaan darurat lainnya
Layanan yang ada di bawah kewenangan Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (DKIS) Kota Cirebon ini, merespons cepat segala laporan yang masuk.
Maka tidak heran, layanan Cirebon 112 diganjar menjadi yang terbaik dalam ajang Indonesia Enterpreneur TIK (IdenTIK) 2021 kategori Publik Sektor.
“Dari prestasi tersebut, Kota Cirebon akan mewakili Indonesia dalam kompetisi ASEAN ICT Awards (AICTA) 2022. Kita menunggu informasi lanjutan terkait waktu pelaksanaannya,” ungkap Kepala DKIS Kota Cirebon, Ma’ruf Nuryasa, Selasa (22/2).
Sebelum sampai pada kompetisi ASEAN, kata Ma’ruf, pihaknya ingin melakukan peningkatan layanan kesiapsiagaan dalam menangani persoalan. Salah satunya dengan adanya konsep panic button yang terintegrasi dengan layanan Cirebon Siaga 112.
“Bisa diintegrasikan dengan 112. Salah satu keuntungannya di android itu bisa ter-tag lokasinya. Persiapan dan tahapan peningkatan layanan juga kompleks, perlu kajian dengan berbagai pihak,” kata dia.
Upaya peningkatan ini, sambung Ma’ruf, karena melihat banyaknya prank call dan ghost call. Dalam sehari, call taker 112 menerima 70-80 panggilan telepon. Dari jumlah itu, prank dan ghost call mendominasi.
“Kita ingin mengurangi jumlah prank dan ghost call itu,” katanya.
Tidak hanya itu, lanjut Ma’ruf, laporan yang diterima oleh call taker 112 juga semakin beragam. Misalnya terkait layanan PLN, PDAM, PJU, Jasa Marga dan lainnya.
“Kami tidak membatasi laporan banyak hal. Ada yang sifatnya pengaduan pelayanan. Tetap kita layani,” tuturnya.
Masih dikatakan Ma’ruf, apabila setiap laporan yang masuk melalui layanan Cirebon Siaga 112 diakumulasikan, bisa menjadi program kerja satuan dinas untuk wilayah tertentu.
“Misalnya laporan kebakaran atau pohon tumbang kerap terjadi di wilayah kecamatan A, maka dinas terkait bisa melakukan proteksi. Begitupun laporan lainnya,” ucapnya.
Ma’ruf juga mengakui, ada tugas penting lain dalam pengembangan layanan Cirebon Siaga 112, yakni terus menyosialisasikan kepada masyarakat sebagai pengguna.
“Kami ingin agar lebih banyak orang tahu. Karena namanya juga nomor tunggal darurat, jadi salah satu kebutuhan dasar. Mari gunakan dengan bijak,” pungkasnya. (Agus)















































































































Discussion about this post