KAB. CIREBON, (FC).- Tim penanganan coronavirus disease (Covid-19) Kabupaten Cirebon masih kekurangan Alat Pelindung Diri (APD). Alat pelindung diri yang mengalami kelangkaan juga kini harganya yang melambung tinggi bak selangit.
Menanggapi hal itu, anggota Komisi VIII DPR RI Dapil Jabar VIII Selly A Gantina menjelaskan, pemerintah tidak bisa memonopoli impor APD hingga menentukan harganya. Namun demikian, bukan berarti pemerintah tidak ada upaya menekan tingginya harga APD dan pengadaannya.
“Saat ini pemerintah sedang berupaya agar impor APD dan alat kesehatan lainnya dengan catatan bisa dibebaskan untuk para importir. Dan pemerintah tengah berupaya agar impor alat kesehatan terutama masker, rapid test itu bisa dibebaskan untuk para importir. Agar kebutuhan alat-alat tadi bisa dipergunakan oleh masyarakat umum,” kata Selly usai meninjau fasilitas Sarana Olahraga (SOR) Watubelah (Covid Center Kabupaten Cirebon), Jumat (27/3).
Dia menjelaskan, dalam kondisi seperti saat ini, pemerintah sangat membutuhkan para importir. Harus diakui, mereka memang punya akses ke luar yang harus didukung oleh pemerintah dengan mempermudah proses impor mereka.
“Tinggal bagaimana pemerintah mempermudah proses impor tadi agar kebutuhan alat-alat tadi bisa masuk ke indonesia, sehingga bisa diperjualbelikan dengan bebas dan tidak ada lagi monopoli mengenai harga alat kesehatan untuk masyarakat,” katanya.
Selain mempermudah proses impor, lanjut Selly, saat ini pemerintah juga sedang berupaya memproduksi APD di dalam negeri melalui pabrikan. Pemerintah pusat maupun daerah hanya tinggal menyiapkan bahan bakunya agar produksi bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.
“Kita sedang mengupayakan bagaimana pengadaan APD tadi, bukan hanya kita mengimpor, tetapi kita juga memproduksi di dalam negeri,” ujarnya.
Karena seperti diketahui, imbuh Selly, selama ini APD dan alat kesehatan yang dikirim dari Cina dan Korea merupakan produksi Indonesia. “Kalau kita telusuri lagi itu dari jabar, dan jabarnya ada di bandung. Ternyata pabrikannya ada di jabar,” tukasnya. (Ghofar)











































































































Discussion about this post