KUNINGAN, (FC).- Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, Pemerintah Kabupaten Kuningan memastikan kondisi ketahanan pangan daerah berada dalam kondisi aman dan terkendali.
Kuatnya produksi hortikultura sepanjang Januari hingga November 2025 menjadi penopang utama dalam menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menekan potensi gejolak harga pangan di tingkat konsumen.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, mengatakan kinerja sektor pertanian, khususnya komoditas sayuran, menunjukkan tren positif dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan produksi pada sejumlah komoditas strategis menjadi indikator terjaganya keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan masyarakat.
“Produksi sayuran di Kabupaten Kuningan relatif terjaga. Ini menjadi faktor penting dalam menghadapi peningkatan konsumsi masyarakat pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), termasuk Nataru,” ujar Wahyu, Rabu (17/12).
Berdasarkan data Diskatan Kuningan hingga November 2025, produksi cabai rawit tercatat mencapai 995 ton, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 928 ton.
Cabai keriting juga mengalami kenaikan dari 140 ton menjadi 227 ton. Sementara itu, produksi tomat melonjak signifikan dari 518 ton menjadi 795 ton.
Kenaikan produksi juga terjadi pada sejumlah komoditas hortikultura lainnya, seperti kentang yang meningkat dari 116 ton menjadi 338 ton, kubis dari 1.527 ton menjadi 2.043 ton, wortel dari 207 ton menjadi 285 ton, kembang kol dari 73 ton menjadi 90 ton, serta sawi dari 2.312 ton menjadi 2.503 ton.
Penguatan produksi tersebut sejalan dengan bertambahnya luasan lahan tanam pada beberapa komoditas.
Luas tanam cabai rawit meningkat dari 109 hektare menjadi 163 hektare, cabai keriting dari 32 hektare menjadi 43 hektare, tomat dari 48 hektare menjadi 64 hektare, wortel dari 11 hektare menjadi 15 hektare, serta sawi dari 139 hektare menjadi 148 hektare.
Wahyu menjelaskan, capaian tersebut tidak terlepas dari berbagai program penguatan ketahanan pangan yang dijalankan pemerintah daerah, salah satunya melalui program Tanam di Halaman Mitra Sinergi Jaga Inflasi (Taman Masagi).
Program ini mendorong pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan sekaligus instrumen pengendalian inflasi.
“Melalui Taman Masagi, kami menyalurkan bibit, polybag, dan pupuk ke seluruh desa. Program ini efektif menambah pasokan sayuran, terutama komoditas yang rentan mengalami fluktuasi harga,” jelasnya.
Selain itu, peran aktif masyarakat, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT), turut mendorong peningkatan produksi cabai.
Tingginya harga cabai yang kerap terjadi setiap tahun mendorong KWT melakukan penanaman mandiri untuk kebutuhan rumah tangga maupun mendukung pasokan pasar lokal.
Di sisi lain, Diskatan Kuningan mencatat adanya penurunan produksi pada beberapa komoditas.
Produksi bawang daun pada 2025 tercatat sebesar 2.790 ton, menurun dibandingkan 3.935 ton pada 2024. Produksi bawang merah juga turun dari 3.761 ton menjadi 2.543 ton.
Menurut Wahyu, penurunan tersebut dipengaruhi kondisi iklim kemarau basah sepanjang 2025.
Curah hujan yang relatif tinggi berdampak pada meningkatnya serangan penyakit tanaman, terutama pada komoditas bawang yang sensitif terhadap kelembapan.
“Karakter tanaman bawang membutuhkan kondisi cuaca tertentu. Saat curah hujan tinggi, produktivitasnya cenderung menurun,” ujarnya.
Sementara itu, hasil pemantauan harga pangan tingkat konsumen di Kabupaten Kuningan per 16 Desember 2025 menunjukkan kondisi yang relatif stabil.
Harga beras premium berada di kisaran Rp14.000-14.500 per kilogram, beras medium Rp13.000-13.500 per kilogram, dan beras SPHP sekitar Rp12.000 per kilogram.
Untuk komoditas hortikultura, harga bawang merah berada di kisaran Rp45.000-50.000 per kilogram, bawang putih Rp38.000-40.000 per kilogram, cabai merah besar dan cabai merah keriting masing-masing Rp55.000-60.000 per kilogram, serta cabai rawit merah Rp80.000-85.000 per kilogram. Harga tomat terpantau stabil di kisaran Rp10.000 per kilogram.
Komoditas pangan lainnya, seperti daging ayam ras, telur ayam ras, gula pasir, dan minyak goreng kemasan, juga berada pada kisaran harga normal dan tidak menunjukkan lonjakan signifikan menjelang Nataru.
Wahyu menambahkan, Diskatan Kuningan secara rutin melakukan pemantauan produksi dan harga pangan setiap hari sebagai langkah antisipatif dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga.
“Dengan monitoring harian, penguatan distribusi, serta dukungan terhadap petani lokal, kami optimistis kebutuhan pangan masyarakat Kuningan dapat terpenuhi dan stabilitas harga tetap terjaga, tidak hanya saat HBKN, tetapi sepanjang tahun,” pungkasnya. (Angga)


















































































































Discussion about this post