KOTA CIREBON, (FC).- Momentum peringatan 28 Tahun Reformasi Indonesia, menjadi ruang refleksi kritis terhadap perjalanan demokrasi, hukum, ekonomi dan masa depan bangsa.
Dalam semangat tersebut, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orda Kab. Cirebon yang di ketuai oleh dr. Asad, Sp.THT-KL, menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Refleksi 28 Tahun Reformasi Indonesia” yang dirangkaikan dengan launching buku “Jalan
Terjal Menuju Indonesia Adil dan Makmur”, pada Kamis (21/5) bertempat di Convention Cyber lantai 8 Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Kegiatan ini dihadiri sekitar 140 peserta, terdiri dari Akademisi, Organisasi Pemuda, Organisasi Kemasyarakatan, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, dan unsur pemerintahan Kota dan Kab. Cirebon.
Beberapa tokoh yang hadir antara lain Prof. Dr. Aan Jaelani, M.Ag selaku Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Ganzar Razuni, SH., M.Si. selaku Guru Besar Ilmu Politik Universitas Nasional sekaligus Wakil Ketua Balitbang DPP Partai Golkar, Prof. Dr. Henry Indraguna, S.H., M.H selaku Penasihat Ahli Balitbang DPP Partai Golkar sekaligus Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hukum dan Perundang-undangan.
Dr. Muhammad Burhanudin selaku Ketua Umum Garuda Asta Cita Nusantara, Prof. Dr. Sutarman, M.Sc. selaku Ketua Umum ICMI Orwil Jawa Barat, Prof. Dr. Cecep Sumarna, M.Ag selaku Ketua ICMI Orda Kota Cirebon, Ety Herawati, M.A.P. selaku Wali Kota Cirebon periode 2018–2023, Dr. Agus Mulyadi selaku Pj. Wali Kota Cirebon periode 2023–2025, Dr. Hilmy
Rivai selaku Sekretaris Daerah Kabupaten Cirebon periode 2022–2025, dan beberapa tokoh lain juga turut hadir dalam kegiatan ini.
Sebagai ketua Pelaksana, dr. Asad, Sp.THT-KL dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan Reformasi tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan semata, melainkan harus menjadi momentum evaluasi kebangsaan dan refleksi bersama terhadap arah perjalanan bangsa.
Menurutnya, Reformasi 1998 telah membuka ruang demokrasi yang lebih luas, namun Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan mendasar, seperti ketimpangan sosial, lemahnya integritas hukum, serta menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Karena itu, lanjut dr. Asad, diperlukan ruang dialog akademik dan intelektual untuk menghadirkan gagasan-gagasan strategis dalam memperkuat arah pembangunan nasional.
Ia menilai bahwa tantangan bangsa saat ini tidak cukup dijawab hanya melalui pendekatan politik dan ekonomi semata, tetapi juga memerlukan penguatan moralitas, etika kepemimpinan, dan budaya intelektual di tengah masyarakat.
“Kegiatan ini bukan hanya mengenang sejarah Reformasi, tetapi juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk memikirkan masa depan Indonesia secara lebih serius. Reformasi harus terus dikawal agar tetap berada pada cita-cita awalnya, yaitu menghadirkan keadilan sosial, pemerintahan yang bersih, dan kesejahteraan yang merata bagi rakyat,” ujar dr. Asad.
Launching buku Jalan Terjal Menuju Indonesia Adil dan Makmur menjadi bagian utama dalam kegiatan tersebut. Buku ini ditulis oleh Prof. Dr. Adang Djumhur S., M.Ag dan Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, S.E., S.H., M.M sebagai refleksi akademik sekaligus kritik konstruktif terhadap perjalanan Reformasi Indonesia selama 28 tahun.
Pada sesi pertama, Prof. Dr. Didin S. Damanhuri selaku penulis pengantar buku menyampaikan bahwa karya Jalan Terjal Menuju Indonesia Adil dan Makmur merupakan refleksi intelektual yang sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Menurutnya, buku tersebut tidak hanya menghadirkan kritik terhadap perjalanan Reformasi, tetapi juga menawarkan arah pemikiran strategis bagi masa depan Indonesia.
Prof. Didin menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan keberanian untuk melakukan reformasi struktural secara berkelanjutan, khususnya dalam bidang pendidikan, ekonomi, hukum, dan tata kelola pemerintahan.
Ia menilai cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya dapat tercapai apabila pembangunan ekonomi berjalan seiring dengan penguatan integritas moral, keadilan sosial, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pada sesi kedua, Penulis pertama Prof. Dr. Adang Djumhur S., M.Ag dalam paparannya menekankan bahwa Reformasi Indonesia tidak cukup dimaknai sebagai perubahan sistem
politik semata, melainkan harus dipahami sebagai transformasi moral dan peradaban bangsa.
Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius berupa melemahnya etika publik, pragmatisme politik, serta lunturnya nilai-nilai keadilan sosial dalam praktik demokrasi.
Ia menjelaskan bahwa cita-cita masyarakat adil dan makmur hanya dapat tercapai apabila pembangunan nasional tidak semata-mata bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penguatan moralitas, pendidikan, budaya intelektual, dan kualitas sumber daya manusia.
Prof. Adang juga menyoroti pentingnya membangun demokrasi yang substantif, yaitu demokrasi yang mampu menghadirkan kesejahteraan nyata, penegakan hukum yang adil, serta perlindungan terhadap kelompok masyarakat kecil.
Menurutnya, bangsa Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang visioner dan berintegritas agar Reformasi tidak kehilangan arah dan tetap berpijak pada cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sebagai bagian dari pemaparan, Prof. Adang juga menyoroti berbagai paradoks pembangunan nasional yang tertuang dalam buku tersebut.
Di antaranya ialah pertumbuhan ekonomi yang stabil namun belum sepenuhnya menghadirkan pemerataan kesejahteraan, insentif fiskal yang lebih banyak mengalir ke industri padat modal dibandingkan sektor padat karya, hingga hilirisasi industri yang dinilai belum memberikan efek ganda optimal terhadap masyarakat luas.
Pada sesi ketiga, Penulis kedua Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, S.E., S.H., M.M dalam paparannya menyampaikan evaluasi kritis mengenai perjalanan 28 tahun Reformasi Indonesia berdasarkan data ekonomi, politik, dan pembangunan nasional. Ia menjelaskan bahwa Indonesia memang mengalami kemajuan ekonomi yang signifikan sejak krisis 1998.
Produk Domestik Bruto Indonesia meningkat dari sekitar USD 95 miliar pada tahun 1998 menjadi sekitar USD 1,47 triliun pada tahun 2025, sementara pendapatan per kapita meningkat dari USD 465 menjadi sekitar USD 5.083. Indonesia juga berhasil menjadi ekonomi terbesar ke-16 dunia dan menjadi bagian penting dalam kelompok G20.
Namun demikian, menurut Prof. Yuddy, capaian pertumbuhan ekonomi tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh pemerataan kesejahteraan dan penguatan kualitas demokrasi. Ketimpangan sosial masih terlihat melalui Koefisien Gini Indonesia yang berada di kisaran 0,375. Selain itu, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia masih bertahan pada angka 34% dan menempatkan Indonesia pada peringkat 109 dunia.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional belum sepenuhnya mampu menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Prof. Yuddy juga menyoroti berbagai tantangan Reformasi yang masih dihadapi Indonesia saat ini, di antaranya melemahnya supremasi hukum, menguatnya oligarki politik, praktik politik dinasti, serta semakin besarnya pengaruh kekuatan modal dalam proses demokrasi.
Menurutnya, Reformasi tidak boleh hanya berhenti pada perubahan prosedural politik, tetapi harus mampu menghadirkan demokrasi yang substantif, yakni demokrasi yang benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat, menjamin keadilan hukum, serta memperluas akses kesejahteraan masyarakat secara merata.
Di akhir paparannya, prof. yuddy juga menegaskan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan keberanian untuk melakukan koreksi terhadap arah pembangunan nasional agar tidak terjebak pada pertumbuhan ekonomi yang bersifat eksklusif.
Pembangunan nasional harus diarahkan pada penguatan ekonomi kerakyatan, peningkatan kualitas pendidikan, reformasi birokrasi, penguatan lembaga antikorupsi, serta penegakan hukum yang adil dan tidak tebang pilih. Dengan demikian, cita-cita Reformasi untuk mewujudkan Indonesia yang adil, demokratis, dan makmur dapat benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi tanpa keadilan sosial hanya akan melahirkan kesenjangan baru. Reformasi harus dikembalikan pada semangat awalnya, yaitu membangun negara yang bersih, demokratis, dan berpihak kepada rakyat,” tegas Prof. Yuddy.
Kegiatan Refleksi 28 Tahun Reformasi Indonesia ini berlangsung secara dinamis dan interaktif. Para peserta memberikan perhatian besar terhadap isu-isu demokrasi, korupsi,
ketimpangan sosial, serta masa depan pembangunan nasional. Diskusi yang berkembang menunjukkan bahwa semangat Reformasi masih relevan untuk terus diperjuangkan di tengah berbagai tantangan kebangsaan saat ini.
Melalui kegiatan ini, ICMI Orda Kota Cirebon berharap semangat Reformasi tetap hidup sebagai kekuatan moral bangsa dalam menjaga demokrasi, memperkuat supremasi hukum, dan mewujudkan Indonesia yang lebih adil, makmur, serta bermartabat. (Agus)










































































































Discussion about this post