KAB. CIREBON, (FC).- Pemerintah Kabupaten Cirebon terus melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka stunting di daerah ini. Di antaranya di tahun ini Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan dan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Cirebon akan melakukan audit kasus stunting (AKS).
Di mana dalam AKS tersebut akan memilih tiga desa dari 26 desa untuk dilakukan audit.
“Tiga desa sasaran audit sudah ada, cuma belum tahu desa-desa mana saja. Nanti yang kita pilih itu dari 26 Desa di 9 Kecamatan dan dari 10 wilayah kerja Puskesmas. Jadi nanti dari 26 Desa itu mana yang paling tinggi kasus stuntingnya itu yang akan dilakukan auditor stunting,” jelas Kepala DPPKBP3A, Hj Eni Suhaeni di kantor DPRD Kabupaten Cirebon, Selasa (7/2).
Nantinya, lanjut Eni, ketiga desa yang dilakukan audit pastinya akan melibatkan beberapa unsur, mulai dari Dinas Kesehatan, DPPKBP3A, tim pakar, dokter anak, psikolog, ahli gizi, kemudian kepala desa dan camat beserta unsur muspikanya.
“Kita lakukan audit mencari penyebab dari kasus stunting yang ada di desa itu, kemudian setelah itu dibawa ke tingkat Kabupaten. Kita diskusikan, kemudian tindak lanjutnya seperti apa,” terangnya.
Saat ditanya dari kesembilan kecamatan itu apakah Kecamatan Sumber termasuk, Eni menjelaskan, untuk Kecamatan Sumber tidak masuk, memang meski jika berdasarkan data yang sudah diverifikasi keluarga kasus stunting memang tinggi, namun Kecamatan Sumber tidak.
“Yang masuk itu Waled, Ciledug, Astajapura, terus Pangenan, Mundu, Talun Weru, Jamblang dan Kaliwedi. Jadi enggak ada Kecamatan Sumber,” tambahnya.
Lebih lanjut Eni menyampaikan, karena stunting harus paripurna. Paripurna yang dimaksud intervensi harus dari hulu ke hilir. Dari hulunya itu intervensi sensitif 70 persen dan hilirnya adalah 30% intervensi spesifik yaitu Dinas Kesehatan.
“Jadi pada saat sudah dapat berapa kasus stunting yang saat ini ada kurang lebih 14.000 itulah intervensi dari dinas kesehatan. Jadi kami adanya di hulu, dan tugasnya mendampingi keluarga-keluarga yang beresiko stunting, diantaranya adalah pasangan usia subur, kemudian ada calon pengantin, kemudian ibu hamil, ibu pasca melahirkan kemudian keluarga yang punya anak baru 0 sampai 59 bulan,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan setempat menyatakan angka stunting di wilayah Kabupaten Cirebon mengalami penurunan dari 26,5 persen kini 18,7 persen.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, dr Hj Neneng Hasanah, penurunan tersebut berkat kerjasama semua pihak dalam penganganan stunting di Kabupaten Cirebon. “Alhamdullilah stunting ada penurunan, ini berkat kerjasama semua pihak,” kata Neneng.
Ia mengungkapkan, pada tahun 2023 ini, pihaknya akan mencari inovasi agar capaian penurunan stunting di Kabupaten Cirebon bisa turun hingga 2024 mendatang.
“Di tahun 2023 Kabupaten Cirebon sudah mendapatkan inovasi dari Provinsi Jabar itu untuk gizi balita stunting, sedangkan untuk di tahun 2024 kita juga ada inovasi itu namanya banting setir (bersama atasi stunting melalui skrining terintegrasi),” katanya.
Neneng menyebut, screening terintegrasi dilakukan mulai dari remaja putri, ibu hamil hingga ibu melahirkan dan balita. “Jadi remaja-remaja putri itu tentunya selain diberikan tablet tambah darah juga dilakukan screening pemeriksaan HB dan screening kecacingan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Neneng mengatakan pemeriksaan kepada remaja putri dilakukan karena nanti cikal bakal menjadi wanita usia subur dan menjadi calon ibu.
“Jadi jangan sampai, baik remaja putri maupun calon ibu dan ibu hamil ini menderita kurang energi kronis yang salah satu penyebabnya adalah anemia,” katanya.
Terkait maksimalnya bapak asuh stunting, kata Neneng, mereka sangat berperan aktif untuk menjaga balita untuk menjadi sehat dan tercukupi gizinya.
“Bapak asuh itu kan memang bagian dari konvergensi untuk penurunan stunting, jadi nanti ya akan kita optimalkan kembali, jadi memang bapak asuh ini baik institusi maupun perorangan yang memang mampu untuk membantu kepada sasaran-sasaran yang stunting di Kabupaten Cirebon,” katanya. (Ghofar)
















































































































Discussion about this post