MAJALENGKA, (FC).- Pasar domba yang ada di Blok Danaraja, Desa Bantarwaru, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka adalah satu satunya pasar domba yang ada di Kecamatan Ligung.
Di setiap hari transaksi yakni Selasa dan Kamis selalu ramai dikunjungi warga, baik sebagai penjual domba (palen) ataupun pembeli.
Namun hingga pertengahan bulan puasa ini, pasar domba yang ada di Blok Danaraja nampak sepi dari pembeli, sehingga membuat puluhan para penjual domba atau palen dibuat pusing tujuh keliling.
Setiap hari pasaran yakni Selasa dan Kamis, yang datang kebanyakan palen atau penjual domba saja. Sedangkan pembeli sangat sedikit berbeda dengan bulan bulan sebelumnya.
Sepinya pasar domba, diperkirakan pengaruhi pandemi Covid-19 yang sampai saat ini belum berakhir.
Disamping anjuran pemerintah untuk tidak berkerumun, acara hajatan atau pesta dikalangan masyarakat juga dibatasi.
Hal ini sangat mempengaruhi penjualan domba secara tidak langsung. Karena dengan berkurangnya masyarakat menggelar pesta atau hajatan secara otomatis kebutuhan akan daging domba juga menurun.
Sepinya pasar domba dirasakan oleh penjual domba atau palen yang berasal dari Desa Ampel, Kecamatan Ligung, Asmadi.
Dia menganggap bulan puasa tahun ini penjualan domba cukup sepi tidak seramai bulan bulan sebelumnya.
“Biasanya, kalau hari pasaran bisa menjual domba 5 sampai 10 ekor domba, namun hari ini saya baru menjual seekor domba saja, itu juga dengan harga yang pas-pasan,” ujar Asmadi, saat dimintai komentarnya, Selasa (27/4).
Dikatakan Asmadi, sepinya penjualan domba ini dimungkinkan oleh pandemi Covid-19 yang belum segera berakhir. Sehingga banyak mempengaruhi sendi-sendi kehidupan termasuk penjualan domba.
“Sebelum adanya pandemi yang menggelar hajatan atau pesta cukup banyak, sehingga kebutuhan daging domba juga banyak, sekarang semuanya serba dibatasi termasuk menggelar hajatan, jadi otomatis yang mengelar hajatan berkurang kebutuhan daging juga menurun. Inilah mungkin yang menyebabkan penjualan domba sepi,” pungkas Asmadi.
Sepinya penjualan domba dibenarkan oleh pengelola pasar, Dedi. Dia mengatakan, sebelum masa pandemi seperti saat ini penjualan domba sangat ramai.
Namun akibat adanya pandemi ini semua sendi ekonomi terkena dampaknya termasuk pasar domba.
“Biasanya penjualan domba di hari pasar bisa mencapai puluhan ekor, namun saat ini hanya belasan ekor saja. Retribusi untuk pengelola per domba yang terjual, untuk seekor domba yang terjual maka pasen membayar retribusi sebesar Rp2000. Jadi kalau hari ini hanya terjual belasan ekor ya tinggal ngitung aja berapa retribusi yang saya terima,” ujar pengelola pasar domba. (Munadi)












































































































Discussion about this post