KAB. CIREBON, (FC).- Desa Bungku Lor menjadi lokasi area percontohan produksi garam dengan metode teknologi tunel di Kabupaten Cirebon.
Metode ini tengah dikembangkan oleh Koperasi Produsen Kristal Laut Nusantara di atas lahan tambak seluas 12 hektar.
Adalah Anwar Kurniawan, Ketua Koperasi Produsen Kristal Laut Nusantara, sekaligus pakar teknolog garam yang menemukan ilmu baru pembuatan garam sistem tunel ini.
Ia mengajak para petambak garam dari kabupaten Cirebon dan Indramayu mulai bertransformasi dari sistem pengolahan tradisional ke metodel tunel ini.
Dia menargetkan pengembangan area tambak untuk produksi garam metode tunel di Bungko Lor ini hingga 100 hektar di tahun 2024.
“Tahun depan mudah-mudahan kalau sudah lancar semuanya bisa 350 ton/tahun/hektar,” ungkapnya saat pertemuan dengan perwakilan petambak garam dari Desa Bungko Lor Kabupaten Cirebon dan dari Krangkeng Kabupaten Indramayu, Sabtu (30/9).
Saat ini, kata dia, sudah ada 4 calon sekaligus pemilik lahan yang ada di sekitar area tambak garam miliknya seluas 12 hektar tersebut.
“Diharapkan konsep ini bisa dikembangkan melalui koperasi kemasyarakatan,” kata Anwar dalam pertemuan yang difasilitasi oleh Caleg DPR-RI dari PDI Perjuangan, Yosep Umar Hadi.
Menurut Anwar, metode tunel ini mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas garam yang lebih baik, dan bisa produksi sepanjang tahun.
“Kami di sini membangun percontohan. Ada juga 4 orang mahasiswa lagi uji coba. Di sini 1 hektar dalam satu tahun hasilnya minimal dapat 250 ton,” ungkapnya
Dikatakan Anwar, secara kualitas, sistem tunel tersebut mampu menghasilkan garam dengan kualitas Kw1 Premium.
“Dulu Cirebon dan Indramayu banyak terkenal dengan garam Kw3, yang belum banyak dengar adalah Kw1 Premium. Nah salah satu yang kami perjuangkan adalah garam Kw1 Premium,” kata Anwar
Sistem tunel ini sudah ia kembangkan di 38 kabupaten yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Daerah pertama yang sukses ia kembangkan penerapan sistem tunel ini adalah Daerah Istimewa Aceh, yang mendapat dukungan support pembiayaan dari pemerintah propinsi.
“Tim Aceh dikirim kemari belajar 3 bulan atas biaya Propinsi Aceh. Kami dibiayai 100 persen untuk mengajar dan membina tanpa kementerian. Jadi pemerintah daerah yang berjalan langsung,” ungkap Anwar.
Dirinya merasa tertantang dengan begitu banyak permasalahan pergaraman, terutama di Kawasan Rebana ini.
Dia telah lama melakukan penelitian untuk bisa menggenjot produksi garam di Indonesia, hingga akhirnya menemukan cara inovatif dengan konsep tunel ini.
Dimulai penerobosannya di PT Garam Sumenep. Awal mula uji coba, tidak diakui. Perjuangannya tidak mudah sampai berhasil sekarang.
“Bahkan awalnya bilang Indonesia tidak mampu produksi garam industri. Kami yang pertama membuktikan itu bisa, sampai hari ini kami konsisten mampu produksi garam industri. Hari-hari ini saya menghabiskan waktu memperjuangkan petanbak garam supaya harga garam tidak turun,” ungkap Anwar.
Kini, dia banyak mendapat dukungan dari berbagai lemaga negara dan kementerian seperti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jabar dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)..
Menurutnya, jika produksi garam konvensional dilakukan pada 5 bulan musim kemarau atau yang dikenal dengan istilah JASON (Juli, Agustus, September, Oktober, November), maka ini tidak berkelanjutan dan harga garamnya naik turun terus.
Dalam pertemuan dengan sejumlah perwakilan petambak garam tersebut, Anwar menjelaskan cara proses pembuatan garam dengan sistem tunel.
Di area seluas 12 hektar tambak garam tersebut telah dibentuk tunel-tunel yang pada bagian atasnya ditutupi oleh plastik UV.
Dimulai dengan proses peralihan pengambilan air baku dari laut menuju lokasi area tambak sejauh 2,4 km menggunakan sistem pompanisasi.
Air baku dari laut diproses menjadi air tua hingga berakhir di meja kristalisasi sampai menghasilkan garam seperti kristal, putih dan bersih.
“Dalam satu tunel bisa menghasilkan produksi 2,5 ton dalam 1 bulan dengan kadar air kekeringan 0,5 persen,” ungkap Anwar. (Andriyana)











































































































Discussion about this post