KAB. CIREBON – Mengulik usaha UMKM percetakan di wilayah cirebon yang terus berkembang menjadi topik bagian dari tugas perkuliahan, tujuh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Manajemen Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.
Mereka terdiri dari Moch Azriel Alvirezhy,Aldi Try Nugraha,Syarifah Nur Amalia S,Nessa Adifta Putri,Bening Nur Fujilestari, Alin Wianda, dan Mutmainnah.
Tujuh mahasiswa ini melakukan kunjungan langsung ke UMKM percetakan untuk melakukan observasi, didampingi dosen pembimbing ibu Agustina.,S.Si.,M.Stat.
Sebuah usaha percetakan milik Aris Moch. Mansur di Jl. Raya Fatahilah, Cirebon, membuktikan bahwa warisan keluarga bisa tetap relevan di tengah gempuran teknologi.
Berdiri sejak 2007 dan merupakan kelanjutan usaha keluarga sejak 1962,dengan mengantongi Suarat Izin Usaha Perdaganga (SIUP) percetakan ini sukses memadukan metode offset tradisional dengan teknologi digital modern.
Dengan 21 karyawan, usaha ini melayani berbagai produk seperti undangan, kalender, box makanan, dan mainan kertas.
Mereka mengandalkan kualitas cetak, kecepatan layanan, serta pendekatan personal dalam menjaga loyalitas pelanggan.
“Mempertahankan pelanggan lebih sulit daripada mencari yang baru,” ujar pak Aris sang owner.
Dengan metode pencetakan yang ketat demi menghasilkan kualitas produk yang tinggi, operator mesin dilatih agar teliti dalam menjaga presisi pencetakan.
“Kami perlu memperoleh desain dan ukuran sesuai permintaan pelanggan, seperti pada pesanan kemasan makanan, contohnya kemasan martabak,” jelasnya
Proses ini melalui beberapa tahap, mulai dari pemotongan kertas agar sesuai dengan ukuran yang diminta.
Pencetakan desain menggunakan empat tahap warna (Cyan, Magenta, Yellow, dan Black), pengukiran atau cutting kertas agar dapat dilipat menjadi bentuk kotak kemasan, dan diakhiri dengan uji quality control untuk memastikan apakah hasil cetakan telah memenuhi standar kualitas sebelum dipasarkan kepada pelanggan.
Uniknya, sebagian besar tenaga kerja adalah otodidak.
Meski tanpa pelatihan formal, keahlian mereka dalam mengoperasikan mesin dan menjaga ketajaman warna jadi kunci keberhasilan produksi.
Dari sisi keuangan, pengelola mengandalkan modal pribadi dan dana cadangan bank untuk menghadapi risiko keterlambatan pembayaran.
Surplus diperoleh saat loyalitas pelanggan tinggi, namun tantangan seperti pandemi bisa memicu defisit.
Usaha ini adalah contoh nyata bahwa keberlanjutan bisnis tak hanya soal teknologi, tetapi juga soal adaptasi, nilai, dan hubungan yang dijaga lintas generasi. (Rls/FC)















































































































Discussion about this post