KOTA CIREBON, (FC).- Suatu kebanggan bagi Civitas Akademika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nur Jati Cirebon, kedatangan langsung Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas. Yang secara resmi melaunching Prodi Siber PAI IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Selasa (14/12).
Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon H Sumanta Hasyim dalam sambutannya mengatakan, diera serba digital seperti sekarang ini, metode pendidikan yang memanfaatkan media internet bukan lagi menjadi teknologi eksperimental.
Hal tersebut dapat dilihat dari kenyataan bahwa saat ini perkembangan teknologi komunikasi dan informasi tersebut juga ikut melahirkan knowledge society.
Selain itu, pandemi Covid-19 juga ikut mendorong agar pemanfaatan teknologi informasi berupa internet, khususnya di pendidikan tinggi, terus dimaksimalkan.
Hal ini kemudian di jawab oleh pemerintah melalui Kementerian Agama yang mengusung pengembangan pendidikan tinggi dengan menginisiasi pendidikan jarak jauh di IAIN Syekh Nurjati.
“Tentu saja, pengimplementasian tersebut bukan sekedar memindahkan proses pendidikan ke ruang maya, namun juga mengaktualisasikan pendidikan jarak jauh dengan basis pengetahuan yang kompetitif,” kata Sumanta.
Sumanta juga menjelaskan, pendidikan jarak jauh bukan hanya tentang ketersediaan teknologi komunikasi dan informasi, melainkan juga tentang kualitas materi ajar, pengajar, peserta didik, metode pedagogi, interaksi yang dapat diakomodir, dan sistem pendukung lainnya yang terus diupayakan dan dimaksimalkan oleh seluruh civitas akademika IAIN Syekh Nurjati.
“Dalam pengimplementasiannya pada pendidikan jarak jauh, proses integrasi ilmu agama dan ilmu umum harus mampu menawarkan muatan nilai kearifan budaya lokal (local wisdom) yang merupakan bagian dari nilai-nilai Islam yang universal,” katanya.
Selain itu, lanjut Sumanta, terdapat pula alasan historis yang ikut melatarbelakangi proses transformasi IAIN Syekh Nurjati Cirebon, yaitu kenyataan bahwa Cirebon yang memiliki kekayaan sosio-kultural keagamaan, pernah menjadi pusat penyebaran Islam sekaligus salah satu pusat penyebaran pengetahuan di Jawa Barat.
Oleh sebab itu, pemilihan IAIN Syekh Nurjati Cirebon sebagai pilot project pendidikan jarak jauh diharapkan memiliki semangat menjadikan Cirebon kembali menjadi salah satu rujukan sekaligus destinasi pengetahuan.
“Jadi sudah cukup jelas, bahwa kehadiran UISSI di Cirebon menjadi tonggak sejarah yang terbangun melalui sejarah panjang Kota Cirebon sebagai destinasi pendidikan Islam. Dan UISSI dalam proses transformasinya telah melahirkan satu pendidikan jarak jauh, yakni PJJ PAI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Dirjen Pendis Kemenag RI Prof Dr H Ali Ramdhani menambahkan, program PJJ ini untuk menemukan kualifikasi kompetensi yang bermuara kepada kesejahteraan.
Apalagi, katanya, ada 40 ribu guru madrasah yang belum memenuhi kualifikasi S1 dan ini yang kemudian menggugah Menteri Agama untuk segera menyambutnya dengan pendidikan yang berkualitas, melalui program PJJ Siber.
“Jadi sudah cukup jelas, bahwa IAIN ditetapkan sebagai UISSI sebagai pilot projek perguruan tinggi berbasis Siber, dan UISSI ini akan menjadi Siber PJJ PAI yang akan menjadi pilot projek. Selain itu, UISSI juga mampu menjadi pusat riset dan lainnya. Dengan demikian, IAIN Cirebon diharapkan menjadi titik episentrum bagi PTKIN lain,” tandasnya.
Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas menyampaikan, Universitas Islam Siber Syekh Nurjati Indonesia (UISSI) ini sudah dimulai dengan dilakukannya soft launching Prodi Siber PAI.
“Kita tinggal melakukan launching UISSI, hanya saja ada kendala di jumlah fakultas, sehingga saya meminta untuk disegerakan agar launching UISSI bisa segera dilakukan,” terangnya.
Menteri agama juga menyatakan, UISSI ini merupakan program Kementerian Agama RI dan pertama di PTKIN pada kepemimpinan Yaqut Cholil Qaumas.
“Saya minta secara khusus dan menjadikan UISSI ini sebagai prioritas, kenapa, karena guru madrasah masih sulit kejar tingkat kesejahteraan. Masih belum bisa ikuti sertifikasi untuk syarat naikkan kesejahteraannya,” paparnya.
Yaqut juga menjelaskan, kenapa sulit karena ada dua faktor, karena ketiadaan biaya untuk melanjutkan sekolah di perguruan tinggi dan kedua biasanya madrasah itu ada di pinggiran yang jauh dari perguruan tinggi.
Untuk itu, Yaqut berharap, ini bisa menjadi solusi bagi anak bangsa untuk lebih mudah mengakses pendidikan dan lebih hemat biaya.
Terutama yang berada di pelosok-pelosok daerah di Indonesia agar mereka bisa dengan mudah mengakses pendidikan. Sehingga pendidikan berbasis Siber ini, benar-benar bisa membantu mereka.
Yaqut juga menegaskan, pandemi ini meskipun membawa kesulitan namun ada berkah, yakni menjadikan Universitas Islam Syber Syekh Nurjati Indonesia.
“Kita atasi keterjangkauan secara finansial, kita buat sekolah murah secara virtual. Biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih sedikit, paling banter quota untuk mengikuti kuliah dan seluruh mahasiswa ini diberikan kuliah gratis, jadi sebanyak 200 mahasiswa PJJ PAI itu gratis” terangnya.
Menteri Agama juga ingin bagaimana mengembangkan UISSI bukan hanya sekedar penuhi janji, terus goodby.
“Itu tidak boleh. Saya akan berikan target-target berikutnya usai launching. Saya berharap UISSI ini akan jadi Universitas papan atas pada waktunya. Kita harus punya perhatian penuh pada UISSI ini,” tandasnya. (Agus)















































































































Discussion about this post