KAB. CIREBON, (FC).- Menjelang puncak arus mudik Lebaran 2025, sebanyak 77 titik U-turn di sepanjang jalur Pantura wilayah hukum Polresta Cirebon mulai dari Kecamatan Susukan hingga Losari, Kabupaten Cirebon, resmi ditutup oleh pihak kepolisian.
Penutupan ini bertujuan untuk memperlancar arus lalulintas serta meminimalkan risiko kecelakaan yang sering terjadi di titik-titik putar balik tersebut,Minggu (23/3)
Keputusan ini diambil setelah dilakukan evaluasi terhadap kondisi lalulintas di jalur Pantura, terutama saat musim mudik yang diprediksi akan mengalami lonjakan kendaraan secara signifikan.
Kasatlantas Polresta Cirebon Kompol Mangku Anom Sutresno melalui Kanit Kamsel Satlantas Polresta Cirebon, Iptu Heru Cahyo Wibowo, mengatakan bahwa U-turn di jalur utama ini sering menjadi sumber kepadatan lalu lintas dan disinyalir menjadi titik rawan kecelakaan.
“Kami menutup U-turn dari Susukan hingga perbatasan Indramayu. Ini merupakan langkah strategis demi kelancaran arus kendaraan, terutama bagi pemudik yang melintasi jalur Pantura. Selain itu, penutupan ini juga bertujuan mengurangi risiko kecelakaan yang sering terjadi akibat kendaraan yang berputar arah secara mendadak,” ujar Iptu Heru, .
Menurutnya, pengemudi yang hendak berputar arah sering kali harus menyeberang jalur yang ramai dan cepat, sehingga meningkatkan risiko tabrakan.
Dalam beberapa kasus, kendaraan yang melaju dari arah berlawanan tidak memiliki cukup waktu untuk menghindari kendaraan yang tiba-tiba berbelok.
“Banyak kecelakaan lalulintas terjadi di sekitar U-turn karena kendaraan yang berputar harus memotong jalur utama. Padahal, kendaraan lain melaju dengan kecepatan tinggi. Ini yang coba kami cegah dengan menutup U-turn yang tidak terlalu mendesak penggunaannya,” jelasnya
Selain itu, U-turn juga sering menjadi penyebab kemacetan, terutama saat terjadi antrean kendaraan yang ingin berbelok. Dalam kondisi arus mudik yang padat, keberadaan U-turn dapat memperlambat laju kendaraan dan menimbulkan bottle neck di beberapa titik.
Pihak kepolisian telah menyiapkan beberapa titik alternatif untuk meminimalisir dampak bagi masyarakat lokal. Titik-titik putar balik yang masih diizinkan beroperasi ditempatkan di lokasi-lokasi strategis yang dinilai lebih aman dan tidak mengganggu arus utama kendaraan pemudik.
“Kami memahami ada dampak bagi warga sekitar, tapi kami sudah menyiapkan beberapa titik alternatif yang lebih aman. Salah satunya di depan Ramayana Plered dan beberapa titik lainnya yang telah kami koordinasikan dengan pihak terkait,” tambah Iptu Heru.
Untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas, Satlantas Polresta Cirebon akan melakukan pemantauan intensif selama 17 hari, mencakup periode sebelum, saat, dan setelah puncak arus mudik dan arus balik Lebaran.
Pemantauan ini dilakukan dengan patroli di jalur-jalur utama serta penggunaan sistem pemantauan lalu lintas secara langsung di beberapa titik strategis.
“Kami akan terus memantau kondisi lalu lintas di jalur Pantura. Jika terjadi kepadatan atau kendala di beberapa titik, petugas akan segera melakukan rekayasa lalu lintas untuk memastikan arus kendaraan tetap lancar,” tegasnya.
Selain itu, polisi juga mengimbau para pemudik agar selalu mengikuti rambu-rambu lalu lintas dan menghindari penggunaan U-turn yang telah ditutup. Petugas akan ditempatkan di sejumlah titik untuk mengarahkan kendaraan agar tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan.
Jalur Pantura dikenal sebagai salah satu jalur utama yang menghubungkan berbagai kota besar di Pulau Jawa, khususnya dalam periode mudik Lebaran. Dengan kecepatan rata-rata kendaraan yang cukup tinggi, adanya U-turn kerap menjadi sumber kecelakaan.
“Keselamatan pemudik adalah prioritas utama. Kami mengimbau agar pengendara mengikuti arahan petugas dan tidak memaksakan diri untuk berbelok di U-turn yang telah ditutup,”. (Johan)















































































































Discussion about this post