KUNINGAN, (FC).- Mahasiswa Program Studi Perguruan Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Al-Ihya Kuningan (UNISA) mengungkap potret pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) melalui kegiatan observasi lapangan pada mata kuliah Pendidikan Inklusif yang diampu Okky Ayu Setyowati, M.Pd. Observasi dilaksanakan di SLB C YPALB Perwari Kuningan, Kecamatan Ancaran, Kabupaten Kuningan.
Observasi tersebut diikuti oleh Yuli Yuliawati, Bagas Ardana Putra, Dela Fitaniya, Rahman Maulana, dan Suci Ramadhani.
Kegiatan ini bertujuan untuk melihat secara langsung proses pendidikan bagi siswa ABK, khususnya dengan hambatan intelektual (tunagrahita), serta pendekatan pembelajaran yang diterapkan pihak sekolah.
Dalam hasil pengamatan mahasiswa, proses belajar di SLB C YPALB Perwari Kuningan dirancang secara bertahap dan sistematis. Guru memecah satu tugas besar menjadi langkah-langkah kecil agar mudah dipahami siswa, disertai penggunaan media serta model pembelajaran interaktif untuk meningkatkan fokus dan partisipasi belajar.
Tia Agustiani, S.Pd.Gr, yang menjadi narasumber dalam kegiatan observasi tersebut, menyampaikan bahwa pendidikan di SLB tidak semata-mata menitikberatkan pada aspek akademik.
“Pendidikan di SLB lebih diarahkan pada pembentukan kemandirian dan kepercayaan diri siswa. Setiap anak didampingi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya masing-masing,” ujar Tia Agustiani.
Selain penguatan kognitif, lanjut Tia, sekolah juga memiliki peran penting dalam membangun kecerdasan emosional dan sosial siswa.
Lingkungan sekolah diciptakan sebagai ruang aman yang menyerupai miniatur masyarakat, sehingga siswa dapat belajar berinteraksi tanpa rasa takut terhadap perundungan.
SLB C YPALB Perwari Kuningan juga mengembangkan pendidikan keterampilan vokasional sebagai bekal masa depan siswa. Program tersebut dilakukan melalui pelatihan keterampilan serta penjajakan program magang untuk membangun kesiapan mental dan kemampuan dasar siswa saat memasuki dunia kerja setelah lulus.
“Sekolah terus berupaya mengikis stigma bahwa disabilitas intelektual adalah hambatan mutlak. Potensi siswa justru diasah agar mereka mampu hidup mandiri dan berdaya di masyarakat,” tambahnya.
Namun demikian, mahasiswa juga mencatat adanya tantangan dalam kesinambungan pembelajaran antara sekolah dan rumah. Pola asuh orang tua yang terlalu protektif dinilai masih menjadi salah satu kendala dalam melatih kemandirian anak.
“Apa yang dipelajari di sekolah idealnya dilanjutkan di rumah. Karena itu, kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi sangat penting agar perkembangan anak tidak terhenti,” kata Tia.
Melalui observasi ini, mahasiswa UNISA menilai bahwa pendidikan luar biasa merupakan perpaduan antara pendekatan pedagogis, psikologi perkembangan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dukungan masyarakat diharapkan terus menguat agar pendidikan inklusif di Kabupaten Kuningan dapat berkembang dan memberi ruang tumbuh yang adil bagi anak-anak berkebutuhan khusus.(Angga)

















































































































Discussion about this post