KAB.CIREBON, (FC).- Baru diresmikan tiga bulan yang lalu, jembatan Gantung Babakan Losari di Desa Babakan Losari Lor, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon runtuh akibat terjangan arus sungai Cisanggarung pada Minggu (16/11) pagi.
Jembatan sepanjang 230 meter dan lebar 1,8 meter tersebut menghubungkan Desa Babakan Losari Lor, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon, dengan Desa Babakan Losari, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes.
Proyek yang menghabiskan anggaran Rp13,8 miliar tersebut semestinya menjadi akses penting antarwilayah, kini justru membahayakan warga yang melintas.
Infrastruktur yang dibangun untuk mempermudah mobilitas warga kini menjadi akses mengkhawatirkan yang terancam ambruk.
Salah seorang warga yang hampir setiap hari melintasi jembatan teraebut, Heri Mulyana menjelaskan, kondisi tersebut berawal hujan secara terus menerus ditambah lagi adanya arus sungai Cisanggarung pada Sabtu sore (15/11), arus deras secara perlahan menggeser pondasi jembatan yang terbuat pasangan batu tersebut.
“Kalau kejadian sendiri sebenarnya sudah seminggu yang lalu, namun berada di seberang termasuk wilayah Brebes, namun yang posisi ambruk berada di Desa Babakan Losari pada Minggu pagi, mulai tanda-tandnaya pada sabtu sore kemarin, dan pagi langsung runtuh,” kata Heri Mulyana, Minggu (16/11).
Menurutnya, derasnya arus sungai membuat tembok penyangga jembatan tidak kuat, sehingga pasangan batu tersebut mengalami ambrol, akibatnya pondasi runtuh dan beton jembatan di atasnya menggantung, dikhawatirkan bila dilintasi, jembatan tersebut akan ambruk, maka untuk pengamanan sementara jembatan tersebut ditutup agar tidak menimbulkan hal yang tidak diinginkan.
“Mungkin karena tidak kuat menahan arus, sehingga tembok penyangga jembatan runtuh, kalau kejadian mungkin malam atau dini hari, warga baru mengetahui saat pagi hari tadi,” ungkapnya.
lanjut disampaikan Heri, masyarakat sangat menyayangkan kualitas pembangunan jembatan yang tidak sebanding dengan waktu pemakaiannya. Mereka menilai runtuhnya jembatan dalam waktu singkat menimbulkan pertanyaan besar mengenai proses pembangunan dan pengawasan proyek tersebut.
Padahal, jembatan itu baru saja diresmikan pada Sabtu (23/8) oleh Direktorat Jenderal Bina Marga (DJBM) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Peresmian itu juga dihadiri Bupati Cirebon, H Imron, anggota DPR RI, H Dedi Wahidi, Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Shopi Zulfia, Dandim 0620/Kabupaten Cirebon, Letkol Inf Mohammad Yusron, serta jajaran Forkopimda Kabupaten Cirebon lainnya.
“Mungkin kalau pondasi jembatan menggunakan beton, akan kuat bila ada arus sungai yang sangat kuat, kalau pasangan batu apalagi ditengahnya kekuatan tanah urug, maka sangat mudah tergerus,” terangnya.
Dengan kondisi yang kini memburuk, warga berharap pemerintah turun tangan cepat untuk memastikan keamanan jembatan, sekaligus mengusut penyebab runtuhnya konstruksi tersebut.
Mereka menegaskan bahwa jembatan bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga keselamatan masyarakat yang setiap hari memanfaatkannya.
Ditambahkan Heri, jembatan gantung serupa sebelumnya yang melintasi sungai Cisanggarung tepatnya yang berada di Kecamatan Pasaleman dan di Kecamatan Ciledug yang menghabiskan anggaran Rp7 miliar dan Rp5 miliar, kondisi masih sangat tangguh.
“Harusnya jembatan ini yang menghabiskan anggaran Rp13,8 miliar lebih tangguh, namun kenapa justru baru 3 bulan sudah runtuh, yang saya lihat perbedaanya di pondasi jembatan yang menggunakan pasangan batu dan didalamnya tanah urug, kalau di Pasaleman dan di Ciledug menggunakan beton,” pungkas Heri. (Nawawi)

















































































































Discussion about this post