“Untuk menjadi Guru Besar, tentunya ada proses yang harus dilalui. Yang pertama adalah menulis artikel dalam bahasa Indonesia sebaik dan serapi mungkin, lalu diterjemahkan lagi kedalam bahasa Inggris. Dalam proses tersebut, kita semua akan mengerti bagaimana cara menyiapkan artikel tersebut dalam bahasa Inggris. Jadi terkadang ada artikel yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, namun karena keliru dan salah sulit pula untuk didampingi,” jelasnya
Wakil Rektor I IAIN Syekh Nurjati Cirebon Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Saefudin Zuhri mengungkapkan, kemajuan sumber daya manusia dosen di suatu kampus ditandai dengan semakin banyaknya guru besar yang berkompeten di bidangnya.
Pasalnya, kata dia, guru besar tersebut bertugas untuk menjaga “gawang” keilmuan di kampus setempat.
“Guru besar merupakan jabatan puncak akademik, setelah itu tidak ada lagi dan saat ini IAIN Syekh Nurjati Cirebon sudah memiliki 10 guru besar. Mudah-mudahan dengan kedatangan Pak Direktur ini bisa memberikan motvasi dan kejelasan kepada teman-teman agar bersemangat meraih dan memenuhi kualifikasi jenjang akademik itu. Dan pimpinan akan memberi pendampingan dan penguatan, seperti pendampingan memberi pendampingan penulisan jurnal internasional,” katanya.
Terkait alih status dari IAIN ke UIN, Saefudin menjelaskan, pihaknya telah mengirimkan proposal perubahan status tersebut ke Kementerian Agama. Saat ini, pihaknya masih menunggu proses selanjutnya, yaitu visitasi yang dilakukan oleh tim asesor.
“Visitasi ini dilakukan oleh tim asesor untuk mencocokan data dan persyaratan alih status dari IAIN menjadi UIN,” tandasnya (Indah)















































































































Discussion about this post