MAJALENGKA, (FC).- Sejumlah petani di Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka terpaksa melakukan panen dini padinya.
Ini dilakukan untuk menyelematkan tanaman dari serangan hama wereng yang mengganas secara tiba-tiba.
Ditambah lagi kondisi batang padi yang rebah akibat terus dihantam banjir.
Akibat hal tersebut, produksi gabah petani pun anjlok hingga 30 persen. Kondisi ini diperparah oleh harga yang juga anjlok.
Harga gabah kering giling (GKG) hanya Rp410.000 – Rp420.000 ribu per kwinral di tingkat petani, dan gabah kering pungut hanya Rp330 ribu per kwintal.
Menurut keterangan sejumlah petani di Desa Ligung Lor, Taryan, Wura dan Sakim, masa panen harusnya masih sekitar satu mingguan lagi, karena tangkai dan bulir padi bagian ujung masih hijau belum berisi penuh.
Namun karena hama wereng coklat yang tiba-tiba mengganas, akhirnya padi terpaksa dipanen dini.
Serangan wereng ini cukup meluas. Dalam semalam bisa menyerang hingga berhektar-hektar. Jika dibiarkan tidak dipanen, maka kerusakan padi akan semakin parah, dan petani bisa tidak memanen sawahnya karena gabah bisa seluruhnya hampa.
“Sekarang saja seminggu diserang wereng, hasilnya langsung anjlok. Yang lain sudah dipanen sejak dua hari kemarin karena wereng banyak, ujung bulir di makan. Kalau dibiarkan bisa-bisa setengahnya habis,” kata Taryan yang tengah memanen padi bersama anak dan istrinya.
Menurut Wira, para petani kini memanen sawahnya masing-masing, mencari tenaga untuk memanen padi sulit, karena ingin menyelamatkan padinya dari serangan wereng.
Sekarang menurutnya dari setiap hektare sawah yang biasa diperoleh sekitar 5 ton per hektare, hanya diperoleh sekitar 3,5 – 4 ton saja.
“Untung ada mesin rontogan, jadi tidak dibantu panen oleh orang lainpun masih bisa cepat asal nyabitnya cepat. Pagi jam lima sudah ke sawah atau sore nyabit pagi dirontog,” katanya.
Hal serupa juga dilakukan sejumlah petani di Desa Panyingkiran, Kecamatan Jatitujuh. Panen dini dilakukan karena tanaman padinya rebah sehingga kualitas gabahpun rendah.
Sebagian hitam terkena lumpur. Bedanya di wilayah ini tidak ada serangan wereng.
Hanya saja para petani di semua wilayah mengeluhkan anjloknya harga gabah yang terjadi sejak seminggu terakhir begitu memasuki musim panen.
Harga gabah kering di tingkat petani kini hanya mencapai Rp410.000 sampai Rp450.000 saja per kwintal.
Di wilayah Kecamatan Jatitujuh dan Ligung harga gabah kering giling hanya mencapai Rp410.000 – Rp420.000 saja per kwintal, serta gabah kering pungut hanya Rp330.000 per kwintal.
Lili dan Mustapid petani di Desa Panyingkiran, Kecamatan Jatitujuh mengungkapkan, anjloknya harga terjadi sejak seminggu yang lalu.
Turunnya harga gabah sulit dikendalikan karena harga disaat kemarau pun tetap rendah paling tinggi hanya mencapai Rp550.000 per kwintal.
Di wilayah Kecamatan Cigasong, harga gabah kering giling masih lebih mahal Rp30.000 atau Rp 450.000 untuk setiap tonnya, dibanding di Ligung dan Jatitujuh.
Meski demikian, mereka tetap mengaku rugi karena biaya garap, pupuk serta sarana produksi pertanian lainnya sudah sangat mahal.
“Upah panen saja sekarang sudah Rp100.000/hari, mencangkul juga sama. Pupuk kemarin Rp600.000 per kwintal karena tidak tersedia pupuk subsidi, traktor Rp300.000, pestisida belum dihitung. Jadi kalau dihitung nanam padi ini rugi. Luas lahan 1.500 m2, diperoleh gabah 6 karung isi 50 kg, jadi hanya 3 kwintal, kali harga Rp450.000 hanya Rp1.350.000. Jadi habis untuk biaya garapun apalagi jika mencangkul dan menyiangi, ongkos menyemprot di hitung,” katanya.
Para petani berharap ada solusi yang tepat dari pemerintah bagi para petani untuk mengurangi dampak kerugian tersebut, setidaknya tidak terlalu rugi. (Munadi)












































































































Discussion about this post