KOTA CIREBON, (FC).- Keberhasilan individu dalam usaha untuk memperbaiki kepribadian tergantung pada banyak faktor, diantaranya penentuan ideal- ideal yang realistik dan dapat dicapai.
Hal itu yang membuat Herny Gusbrava (HG) dan Thurst Production bertekad membentuk komunitas pengembangan diri.
Tepatnya pada bulan Januari 2021, mereka membentuk komunitas “Sahabat Kreatif Film”.
Selang satu bulan dari pembentukan komunitasnya, HG menulis naskah Film serta menjadi produser Film “PELARIAN” yang kemudian digarap oleh Thurst Production, dan perdana ditayangkan di bulan Maret 2021 tepatnya di Slangitcoffee, Kawasan Bima Kota Cirebon.
Kepada FC lewat pesan tertulisnya Senin (15/3) HG menambahkan, bahwa saat ini perilaku manusia semakin kompleks, apalagi dihadapkan pada kondisi pandemi, karena itu diperlukan cara kreatif dalam memaknai segala problematika kehidupan.
Film adalah salah satu cara untuk menyampaikan pesan kehidupan hingga penonton dapat belajar bagaimana cara menyelesaikan permasalahan hidup dan dapat berada pada fase “CHANGE NOW”.
Begitu juga dengan FILM PELARIAN, menyiratkan pesan agar manusia berada di penerimaan diri yang baik dari berbagai situasi kehidupan yang dialami.
Namun berada pada fase penerimaan diri itu ga semudah berbicara atau membalikkan tangan, butuh cara yang tepat dan kreatif untuk berada disitu.
Hal itupun dialami oleh salah satu pemain film tersebut, yaitu Yani Risnawati warga Cirebon. Ia pernah mengalami kondisi sangat tertekan dan merasa tidak bermanfaat saat divonis Strooke oleh dokter.
Selama dua tahun, ia mengurung diri di kamar, siapapun yang menghampirinya saat itu ia anggap akan menghinanya. Hingga satu titik, ia berada di titik balik bahwa hidup harus terus berjalan dan ia harus menjadi manusia yang bermanfaat.
Akhirnya pada tahun 2018, ia memutuskan untuk berkarya di dunia perfilman, dan yang baru saja dijalani adalah FILM PELARIAN, dan saat ini membuka usaha Rengginang Kidal.
Perjuangan yang gigih membuat Yani terus memberikan semangat pada orang sekitar dan meyakinkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.
Memang tidak semudah menyelesaikan masalah dengan penerimaan diri, butuh kebijaksanaan didalamnya, dan film adalah cara yang kreatif yang memberikan dampak psikologis bagi para penonton, karena itu perlu adanya edukasi yang disampaikan di film.
Hal itu yang membuat HG dan Thurst Production bertekad membuat karya Film yang beredukasi serta mengarahkan kesadaran kepada para penonton bahwa Tak ada yang sia-sia yang Tuhan berikan kepada setiap umatnya.
“Kita minum kopi ya, pahitnya kita minum sama-sama”! merupakan penggalan dari Film Pelarian .
Dari pernyataan itu bisa diambil pesan bahwa hidup bukan tentang mementingkan ego diri atau agar ego diri dipenuhi tanpa memperdulikan kepentingan orang lain, namun hidup tentang mencari dan memberi kebermanfaatan.
Harapannya melalui film, dapat memberikan manfaat dan inspirasi bagi siapapun untuk berkarya dan memberikan pesan kehidupan.
Bukankah hidup akan menjadi hidup ketika manusia merasa dirinya memiliki manfaat? Selamat berkarya dengan tetap memanusiakan manusia, ujar HG. (Egi/Job/FC)












































































































Discussion about this post