MAJALENGKA, (FC).- Sebanyak dua guru di SMKN 1 Kadipaten Kabupaten Majalengka, dinyatakan reaktif usai menjalani rapid test antigen.
Diketahui, dilakukannya rapid test antigen sendiri dikarenakan sekolah tersebut tengah menjalani ujian kompetensi bagi para siswa.
Ketua Satgas SMKN 1 Kadipaten Majalengka, Arsadi mengatakan, sebanyak 11 guru baik eksternal maupun internal telah menjalani test rapid antigen.
Guru eksternal dimaksud, yakni para penguji yang didatangkan dari luar sekolah.
“Kemarin, baru satu hari kita menjalani ujian kompetensi bagi para siswa kelas XII yang jumlahnya kurang lebih dibawah 50 orang. Tapi karena ada dua guru reaktif, kami langsung ambil keputusan untuk ujian di rumah,” ujar Arsadi kepada wartawan, Selasa (23/3).
Ia menjelaskan, ujian kompetensi yang akhirnya dilakukan di rumah merupakan keputusan bersama yang diambil, demi mengantisipasi dugaan virus Corona di lingkungan sekolah.
Sementara, mulai hari ini (kemarin,-red) dipastikan kegiatan sekolah bagi para siswa maupun lainnya ditiadakan atau lockdown.
“Mulai hari ini tanggal 23 Maret 2021 sekolah bakal ditutup sampai tanggal 5 April 2021 untuk kegiatan siswa, guru maupun pelayanan publik,” ucapnya.
Untuk mencegah terjadinya klaster sekolah dengan adanya dua guru reaktif, pihaknya bekerjasama sama dengan PMI Majalengka melakukan penyemprotan disinfektan.
Seluruh sudut-sudut sekolah, ruangan dan fasilitas belajar nantinya akan disemprot.
Sementara ia menepis anggapan, bahwa reaktifnya dua guru hasil rapid tes antigen berasal dari meninggalnya Kepala Sekolah yang dinyatakan positif Covid-19.
Ia menyebut, sudah sejak satu bulan setengah yang lalu, pimpinannya sudah tidak kembali ke sekolah. Yang bersangkutan selama itu menjalani perawatan di berbagai rumah sakit atas penyakit yang dideritanya.
“Kepala Sekolah sudah tidak ada kontak dengan sekolah, jadi bersih. Kepala Sekolah memang meninggal dunia kemarin, tapi tidak ada hubungannya dengan kejadian di sekolah (dua guru reaktif). Sehingga, jika ada yang menghubungkan kejadian di sekolah dengan meninggalnya Kepala Sekolah akibat Covid-19 itu tidak benar,” jelas dia. (Munadi)















































































































Discussion about this post