MAJALENGKA,(FC), – Pemerintah Desa Leuweunghapit Kecamatan Ligung Kabupaten Majalengka, sampai saat ini masih melestarikan adat desa warisan leluhur yakni Guar Bumi.
Adat desa Guar Bumi ini adalah sebuah tradisi yang masih di lestarikan di tataran pulau Jawa khususnya wilayah Majalengka, Indramayu dan Cirebon.
Guar Bumi ini biasanya di gelar saat menjelang musim rendengan tiba dengan ditandai sudah banyaknya hujan yang turun di wilayah tersebut.
Biasanya adat Guar Bumi atau sebutan lainnya Bongkar Bumi digelar pada hari Rabu dilanjut pada hari jumatnya acara Munjungan di Taman Pemakaman Umum ( TPU) setempat.
Di Desa Leuweunghapit itu sendiri, acara Guar Bumi digelar Rabu (19/10) pagi di pelataran BUMDES setempat.
Masyarakat desa setempat berdatangan dengan membawa nasi tumpeng berikut lauk pauk untuk makan bersama sebagai tanda syukur karena di pertemukan kembali dengan musim rendengan atau Musim Tanam Pertama (MT 1).
Sebelum acara Guar Bumi berlangsung, masyarakat setempat melakukan ritual dengan mengubur segala jenis makanan, minuman dan buah buahan untuk dikubur di tengah tengah sawah.
Hal ini sebagai tanda bahwa musim tanam akan tiba, sekaligus sebagai simbol dan rasa syukur para petani atas hasil panen yang melimpah.
Kades Leuweunghapit Didi Suryadi kepada wartawan menjelaskan, walau jaman sudah maju, katakan sudah hidup di era modern, namun warisan leluhur yang positif masih terus dipelihara.
Bukan hanya Guar Bumi, adat desa positif yang lainpun masih terus dilestarikan seperti Munjungan, Mapag Sri dan yang lainnya.
Masih dikatakan Kades Didi, Guar Bumi adalah tradisi tahunan adalah sebagai simbol akan dimulainya masa tanam rendengan. Sehingga wajar saja masyarakat berbondong bondong datang ke suatu tempat yang telah ditentukan untuk melakukan doa bersama.
“Inti dari kegiatan Guar Bumi ini adalah, sebagai rasa syukur telah dipertemukan kembali Dengan musim rendengan, sekaligus menjalin silaturahmi dengan tetangga dan sanak famili,” pungkas Kades Didi singkat.
Di tempat yang sama, seorang tokoh masyarakat Desa Leuweunghapit, Wasba mengatakan, kegiatan Bongkar Bumi atau Guar bumi ini adalah ritual tahunan khususnya bagi para petani.
Makanya sebelum diadakan doa bersama, dilakukan juga penguburan beberapa jenis makanan, minuman dan buah buahan.
Intinya kita mengajak sesama mahluk yang tanpa kita bisa melihatnya untuk bersama sama memanjatkan doa dan memohon kepada Allah SWT agar musim tanam tahun ini diberikan keberkahan.
Namun ketika didesak apa maksud mengubur beberapa jenis makanan dan minuman, Wasbah mengatakan itu hanya sebagai simbol saja.
“Makanan dan minuman yang dikubur di tengah sawah, itu hanya sebagai simbol saja, dan jangan diartikan yang macam macam,” pungkas Wasbah.
Pantauan wartawan, pelaksanaan Guar Bumi di Desa Keuweunghapi berjalan lancar, apalagi cuaca juga sangat mendukung yakni mendung namun tidak sempat turun hujan.
Acara dimulai dari beberapa sambutan dari pihak terkait dilanjut doa bersama dan berakhir dengan makan Bereng masyarakat. Dimana sesama warga saling berbagi menu dengan mereka yang hadir di acara Guar Bumi. (Munadi)












































































































Discussion about this post