KOTA CIREBON, (FC).- Sudah dua hari Kota Cirebon melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) 100 persen. Hal ini juga dibarengi dengan pelaksanaan akselerasi vaksinasi Covid-19 anak usia 6-11 tahun disetiap sekolah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon Agus Miulyadi menyampaikan, pihaknya akan melakukan evaluasi PTMT, sekaligus evaluasi pengendalian Covid-19 tetap akan dilakukan di Kota Cirebon.
“Uji petik (testing) akan kita jadwalkan sebagai bagian dari evaluasi PTMT, maupun evaluasi pengendalian Covid-19. Desember 2021 lalu Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon juga telah melakukan testing untuk anak-anak yang melakukan PTM, hasilnya pun non reaktif,” jelasnya saat melakukan peninjauan dan monitoring simulasi PTMT 100 persen, pada Selasa (11/1).
Dikatakannya, evaluasi dan testing yang sama juga akan digelar setelah sekitar dua minggu PTMT digelar di Kota Cirebon. “Kita evaluasi dan Dinas Kesehatan untuk melakukan testing,” terang pria yang akrab disapa Gusmul ini.
Gusmul yang juga menjabat Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Cirebon membeberkan, berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri disebutkan, jika berdasarkan hasil testing dan penelusuran kontak erat ternyata positivity rate di atas 5 persen, sekolah akan ditutup. Tapi kalau masih di bawah 5 persen, maka hanya lokal saja.
Terutama jika ditemukan adanya kasus positif saat pelaksanaan PTMT. Namun demikian dirinya berharap, kondisi tersebut tidak terjadi dan meminta untuk anak-anak yang sedang sakit untuk beristirahat di rumah dan tidak mengikuti kegiatan belajar terlebih dahulu.
Sementara itu berdasarkan hasil tinjauan langsung pelaksanaan PTMT 100 persen, Sekda menemukan ada sekolah yang siswa dan siswinya masih datang bersamaan sehingga dari sisi lalu lintas terlihat sangat padat.
Untuk itu, Sekda meminta kepada pihak sekolah untuk bisa membagi jam masuk dan jam keluar setiap siswa. Untuk itu, durasi antara kedatangan dan kepulangan magar bisa diatur dan diperhatikan. Solusinya, lanjut dia, seperti yang dilakukan di SD Kartini, yang sudah menerapkan sistem shifting. Mengatur kedatangan dan kepulangan antara kelas kecil dan kelas besar dibedakan. “Sehingga ada interval dan anak-anak tidak datang maupun pulang seluruhnya secara bersamaan,” tutupnya. (Agus)













































































































Discussion about this post