KAB. CIREBON, (FC).- Kepala Desa (Kuwu) Sende, Kecamatan Arjawinangun Asep Widodo menyatakan, warga desa hanya mendapat dampaknya dari tercemarnya sungai oleh limbah spirtus yang sudah berlangsung seminggu terakhir.
Hal itu ia sampaikan saat diwawancara oleh FC pada Jumat (30/7). Ia menyatakan pihaknya tidak mengetahui apa-apa dari pembuangan limbah ini.
Masyarakat sekitar hanya menjadi dampak dari limbah yang mencemari sungai mereka.
“Kita nol persen tidak tahu kalau masalah itu. Kita tidak tahu apa-apa, kita hanya kena dampak. Itu BUMN atau BUMD saya enggak tahu, kalau bisa juga di stop, pengennya kan gitu,” ujar Asep kepada FC.
Asep juga menyatakan, tidak ada kesepakatan antara pihak pabrik dengan masyarakat sekitar. Ia belum menerima MoU (Memorandum of Understanding) mengenai limbah pabrik yang mengalir ke desanya.
“Yang sebelumnya lebih parah dari ini,” ujar Asep, Menurutnya kejadian kali ini tak separah sebelumnya. Kejadian yang sama sering terjadi dan lebih buruk dibandingkan pencemaran kali ini. Bau dan warna air dari sungai yang tercemar lebih pekat dibandingkan kejadian kali ini.
“Tidak ada MoU dari sana (pabrik) untuk kita aliri (limbah) ini ke sini. Tidak ada MoU ke para kuwu, limbah kita alirin ke sini apakah mau atau tidak, itu tidak ada,” jelasnya.
Pencemaran limbah ke aliran sungai sudah berlangsung sejak dulu.
Menurutnya, dari awal para kepala desa dan masyarakat sudah berusaha untuk berkoordinasi. Namun, kejadian serupa terus berulang hingga sekarang.
Asep menambahkan, lamanya air sungai yang tercemar selalu berubah-ubah.
Menurutnya, lama atau tidaknya kondisi air sungai tercemar bergantung dari jumlah produksi. Meski demikian, menurut penuturan warga sekitar, kejadian kali ini sudah berlangsung selama satu minggu lebih. (Faqi/Job/FC)












































































































Discussion about this post