KAB. CIREBON, (FC).- Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Cirebon mencatat adanya penurunan mobilitas masyarakat hingga 25 persen selama PPKM Darurat.
Penurunan ini dilihat dari perhitungan selama 10 hari penerapan PPKM Darurat yang berlangsung sejak 3 Juli lalu. Hal ini disampaikan Kepala Satlantas Polresta Cirebon, Kompol M Alan Haikel.
Menurutnya, penurunan mobilitas tidak hanya di dalam kota saja, volume kendaraan yang masuk di gerbang tol juga menurun.
Bahkan angka penurunannya mencapai 40 persen yang terjadi selama periode 3-12 Juli dibanding periode yang sama di bulan Juni lalu.
“Kita lakukan anev, 10 hari sebelum PPKM dan 10 hari setelah PPKM itu menurun hingga 25 persen,” bebernya, Kamis (15/7).
Laju kendaraan di dalam kota apabila dalam kondisi hari normal hanya berada di kisaran angka 30 sampai 40 km/jam. Saat ada penyekatan PPKM, laju kendaraan diperkirakan berada di angka 60 sampai 80 km/jam
Meski memiliki hasil yang baik, tetap saja banyak masyarakat mengeluh. Namun ia tetap berharap hasil dari penyekatan ini berbanding lurus dengan penurunan kasus penularan Covid-19.
Baca Juga: Tekan Mobilitas, Penyekatan di Lemahabang Diperketat
“Tentunya, dengan adanya penyekatan ini dapat berbanding lurus, dengan turunnya kasus penularan. Karena, penularan terjadi karena adanya aktivitas, dan sebagainya,” ujarnya.
Tak sembarangan sekat, dirinya juga melakukan kajian serta pertimbangan. Seperti di depan Polresta, dilakukan penyekatan PPKM. Tapi karena masyarakat keberatan, akhirnya dialihkan ke malam hari.
“Begitupun yang di jembatan merah, kita pindahkan ke mountoya karena masih adanya jalur lain,” bebernya.
Meski demikian, ada beberapa sektor yang diperbolehkan melintas meskipun ada penyekatan, seperti sembako, kesehatan khususnya ambulan, keamanan, Informasi, energi (mobil BBM) dan lainnya.
Akan tetapi, dirinya pun mengingatkan kepada pengendara diusahakan untuk tetap melintasi jalur alternatif yang ada selama itu tidak urgen atau darurat.
“Kita pun tidak menutup seluruh akses jalan. Karena, masyarakat masih perlu beraktivitas. Maka, Diharapkan dan diusahakan tetap melintasi jalur alternatif bagi pekerja kritikal atau essensial, bilamana tidak bersifat darurat,” pungkasnya. (Sarrah)
















































































































Discussion about this post