INDRAMAYU, (FC).- Petani tambak di Kabupaten Indramayu rugi hingga mencapai Rp82 miliar lebih. Kerugian tersebut diakibatkan karena ribuan hektare tambak dan kolam di Kabupaten Indramayu terendam banjir.
Plt Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Indramayu Edi Umaedi menyebutkan, luas potensi perikanan budidaya di Kabupaten Indramayu seluruhnya mencapai 23.074 hektar. Dari jumlah itu, lahan yang terendam banjir mencapai 9.890 hektar.
“Lahan tambak dan kolam yang terendam banjir itu tersebar di 12 kecamatan,’’ ujar Edi ditemui FC di ruang kerjanya, Senin (22/2).
Adapun 12 kecamatan yang lahan tambak/kolamnya terendam banjir adalah Kecamatan Krangkeng seluas 19 hektar, Kecamatan Indramayu 35,21 hektar, Kecamatan Sindang 15 hektar, Kecamatan Pasekan 1.380 hektar, Kecamatan Cantigi 4.479 hektar dan Kecamatan Kandanghaur 133,87 hektar.
Selanjutnya, Kecamatan Losarang 3.816,8 hektar, Kecamatan Anjatan 0,21 hektare, Kecamatan Kroya 5 hektar, Kecamatan Kertasemaya 0,08 hektar, Kecamatan Sukagumiwang 4,03 hektar, Kecamatan Bangodua 0,12 hektar dan Kecamatan Tukdana 2,46 hektar.
Edi menyebutkan, komoditas budidaya yang terendam banjir itu berupa budidaya air payau/tambak. Meliputi udang windu, udang vaname, bandeng, nila dan rumput laut.
Selain itu, budidaya kolam/budidaya air tawar berupa lele, gurame dan nila. “Umurnya dari budidaya tersebut bervariasi. Ada yang baru menanam atau menyebar benih, sampai yang sudah siap panen,” kata Edi.
Banjir sepekan kemarin, kata dia, telah merendam 27 kecamatan di Kabupaten Indramayu. Selain merendam pemukiman dan sawah, banjir juga membuat budidaya ikan dan udang yang ada dalam kolam/tambak menjadi hanyut terbawa air.
Selain hilangnya budidaya, para petambak juga merugi akibat kerusakan pada pematang tambak.
Banjir yang menggenang selama berhari-hari, telah membuat pematang yang terbuat dari tanah menjadi terkikis, longsor bahkan jebol.
“Dari inventarisasiKerugian yang dialami para petambak akibat banjir tersebut diperkirakan mencapai Rp82 miliar lebih,” ujar Edi.
Edi mengakui, para petambak yang terdampak banjir itu belum seluruhnya memiliki asuransi perikanan bagi pembudidaya ikan kecil.
Dia mengatakan, dari total 237 pemilik asuransi tahun 2020, yang terdampak banjir sebanyak 74 pembudidaya ikan, dengan luasan 183,6 hektar.
“Jadi masih banyak pembudidaya yang belum terlindungi asuransi,” terangnya.
Edi mengaku, sangat prihatin dengan musibah yang menimpa para pembudidaya itu. Apalagi, kejadiannya hampir selalu terulang, terutama saat ada banjir kiriman dan curah hujan tinggi.
Edi berharap, infrastruktur sungai/saluran segera ditata kembali mulai dari hulu sampai hilir. Dengan demikian, dapat meminimalisasi bencana serupa.
Sementara itu, kaburnya ikan dari dalam tambak justru dimanfaatkan banyak warga. Mereka ramai-ramai memancing ikan di genangan banjir. (Agus)














































































































Discussion about this post