KAB.CIREBON, (FC).- Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Greged pada Senin (2/2) memicu longsor tebing setinggi sekitar 20 meter yang menimpa rumah warga di Dusun Pakuwon Cicariang, Desa Gumulung Tonggoh, Kabupaten Cirebon, sekitar pukul 17.50 WIB.
Longsoran tersebut menimpa rumah milik Rosidi, seorang penjual es doger keliling. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, material longsor berupa tanah dan batu pecah menyebabkan kerusakan parah pada bagian dapur rumah sepanjang kurang lebih tiga meter.
Rosidi menceritakan, hujan turun tanpa henti sejak siang hari sehingga membuat kondisi tanah di lereng belakang rumahnya menjadi labil. Tebing dengan ketinggian sekitar 20 meter itu akhirnya runtuh dan menghantam bangunan rumah.
“Bagian tebing yang terkikis sekitar empat meter di bagian atas, materialnya langsung menghantam dapur,” ujar Rosidi, Selasa (3/2).
Ia menuturkan, sesaat sebelum kejadian, sekitar pukul 17.20 WIB, dirinya baru pulang berjualan dan tengah membuat saluran pengurai air hujan di belakang rumah. Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh keras dari arah tebing.
“Saya kaget mendengar suara besar dari belakang rumah. Alhamdulillah, istri saya yang sedang berada di dapur langsung menyelamatkan diri dan mengungsi ke tempat yang lebih aman,” katanya.
Rosidi mengaku belum dapat memperkirakan besaran kerugian akibat kejadian tersebut. Namun, ia berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah untuk penanganan permanen di area tebing agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami berharap ada bantuan untuk memperkuat tebing secara permanen, karena ini sangat membahayakan,” harapnya.
Sementara itu, Kuwu Gumulung Tonggoh, Agus Saefuddin, membenarkan peristiwa longsor yang terjadi sekitar pukul 17.30 WIB. Menurutnya, hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 13.00 WIB menyebabkan tanah di lereng menjadi jenuh air dan kehilangan daya ikat.
“Kondisi tanah yang jenuh air membuat lereng menjadi tidak stabil dan akhirnya longsor ke arah rumah warga yang berada tepat di bawah tebing,” jelas Agus.
Ia menambahkan, secara geografis Desa Gumulung Tonggoh memang berada di wilayah perbukitan dengan ketinggian antara 140 hingga 170 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga masuk dalam kategori zona rawan longsor berdasarkan peta risiko bencana Kabupaten Cirebon.
“Kita sangat bersyukur tidak ada korban jiwa. Seluruh penghuni rumah sudah berada di luar bangunan saat longsor terjadi, sehingga hanya kerugian material yang harus kita tangani,” tambahnya.
Sebagai langkah darurat, warga sekitar bergotong royong memasang cerucuk bambu serta material batu di sekitar lokasi longsor untuk mencegah pergerakan tanah lanjutan yang berpotensi membahayakan.
Agus juga mengungkapkan, potensi bencana serupa tidak hanya terjadi di Dusun Pakuwon. Di Dusun Rambutkasih, tebing sepanjang sekitar 10 meter dilaporkan mengalami pengikisan, bahkan muncul retakan tanah yang membentang hingga mendekati permukiman warga.
“Sedikitnya ada lima rumah yang berpotensi terdampak akibat retakan tanah di lokasi tersebut,” ungkapnya.
Ia pun mengimbau seluruh masyarakat Desa Gumulung Tonggoh, khususnya yang tinggal di wilayah rawan bencana, untuk meningkatkan kewaspadaan dan aktif melaporkan tanda-tanda alam yang mencurigakan.
“Kami mengajak masyarakat untuk selalu mengikuti arahan pemerintah desa dan petugas BPBD. Jika melihat tanda-tanda longsor, segera laporkan agar bisa dilakukan langkah pencegahan sedini mungkin,” tegasnya.
Pemerintah Desa Gumulung Tonggoh, lanjut Agus, berencana mengajukan bantuan anggaran kepada Pemerintah Kabupaten Cirebon guna pembangunan struktur penahan tanah permanen di sejumlah titik rawan longsor. Upaya ini diharapkan mampu meminimalkan risiko dan memberikan perlindungan yang lebih aman bagi masyarakat ke depannya. (Nawawi)











































































































Discussion about this post