KUNINGAN, (FC).- Kondisi sarana dan prasarana Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Kuningan masih menunjukkan ketimpangan yang cukup signifikan.
Di tengah sejumlah sekolah yang telah memiliki fasilitas layak, ratusan ruang kelas di SMP negeri masih tercatat mengalami kerusakan, bahkan hingga kategori berat.
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan, Abidin, S.Pd, melalui Kepala Seksi Sarana dan Prasarana SMP, Meylina Husniati, S.E., M.A.P, mengungkapkan hasil survei lapangan terbaru terhadap 78 SMP Negeri di Kuningan.
Berdasarkan data tersebut, tercatat 709 ruang kelas dalam kondisi baik, 72 ruang kelas rusak ringan, 407 ruang kelas rusak sedang, dan 70 ruang kelas masuk kategori rusak berat.
“Melihat kondisi tersebut, fokus pembangunan sarana pendidikan pada tahun 2025 lebih diarahkan pada rehabilitasi bangunan dibandingkan pembangunan baru,” kata Meylina, Rabu (17/12).
Ia menjelaskan, kebutuhan Ruang Kelas Baru (RKB) untuk jenjang SMP saat ini relatif sudah tercukupi. Karena itu, kebijakan anggaran lebih difokuskan pada perbaikan ruang kelas yang mengalami kerusakan.
“Prioritas kami adalah rehabilitasi ruang kelas dan pemenuhan RKB jika memang dibutuhkan. Namun untuk SMP, RKB relatif aman, sehingga anggaran lebih diarahkan ke rehab,” ujarnya.
Menurutnya, intervensi pemerintah daerah difokuskan pada bangunan dengan tingkat kerusakan sedang dan berat, sementara sekolah dengan kerusakan ringan didorong untuk memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Kerusakan ringan kami arahkan bisa ditangani melalui BOS. Untuk rusak sedang dan berat menjadi kewenangan intervensi pemerintah daerah,” jelas Meylina.
Pada tahun 2025, rehabilitasi sarana pendidikan melalui APBD Kabupaten Kuningan menyasar sekitar 36 sekolah yang tersebar di berbagai wilayah.
Jenis pekerjaan meliputi rehabilitasi ruang kelas, perpustakaan, ruang guru, hingga pembangunan dan perbaikan pagar sekolah.
Selain itu, terdapat 8 sekolah lainnya yang mendapatkan program revitalisasi melalui sumber pendanaan berbeda.
Sementara itu, untuk pengadaan sarana penunjang pembelajaran seperti laptop, Interactive Flat Panel (IFP), serta perangkat penyimpanan data, Meylina menyebutkan masih menunggu penetapan anggaran pada tahun berikutnya.
“Pengadaan sarana TIK untuk tahun depan belum ditetapkan. Bidang sarpras hanya melakukan verifikasi dan koordinasi dengan satuan pendidikan,” katanya.
Lebih lanjut disampaikan, total jumlah SMP di Kabupaten Kuningan mencapai 120 sekolah, terdiri dari 78 SMP Negeri, sisanya SMP swasta, termasuk 6 SMP Satu Atap (Satap).
Seluruh data sarana dan prasarana tersebut dihimpun melalui sistem Dapodik sebagai dasar perencanaan dan pengambilan kebijakan.
Disdikbud Kabupaten Kuningan berharap, melalui skema prioritas rehabilitasi berbasis tingkat kerusakan, kualitas sarana pendidikan SMP dapat ditingkatkan secara bertahap dan merata di seluruh wilayah (Angg)


















































































































Discussion about this post