KAB. CIREBON, (FC).- Enam rumah warga Blok Desa RT 02 RW 01 Desa/Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon rusak tergerus abrasi Sungai Ciwaringin. Selain itu, abrasi juga mengancam belasan rumah lainnya.
Pasalnya, abrasi yang menyebabkan pergerakan tanah itu mengakibatkan rumah-rumah warga retak, rusak, dan ambruk perlahan-lahan. Beruntung tidak ada korban jiwa pada peristiwa yang terjadi pada Sabtu (5/3) sekitar pukul 21.30 WIB. Longsor susulan masih berpotensi terjadi di sekitar wilayah tersebut
Penyebab kejadian tanah longsor yang mengakibatkan rumah warga yang rusak tersebut, dikarenakan hujan yang intensitas sangat tinggi, dan menyebabkan aliran Sungai Ciwaringin mengikis bibir sungai (erosi), yang berjarak dengan rumah warga kurang lebih 10 meter.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon menginformasikan dalam bencana tersebut menyebabkan 6 rumah rusak dan 15 rumah sudah ambruk. Bencana ini menyebabkan sejumlah keluarga mengungsi ke tempat yang aman. BPBD setempat mencatat 25 KK atau 105 warga yang sementara mengungsi ke tempat kerabat terdekat.
Instansi yang turun dan melihat langsung kejadian longsor di Desa Ciwaringin diantaranya, BPBD Kabupaten Cirebon, Kecamatan Ciwaringin, aparat Desa Ciwaringin, dan pihak Bhabinkamtibmas Polsek Ciwaringin. Bahkan Bupati Cirebon pun diketahui langsung meninjau lokasi longsor.
Upaya BPBD Kabupaten Cirebon melakukan asesment dan berkoordinasi dengan aparat desa setempat, dan memberikan bantuan logistik pada warga yang terdampak.
“Warga mengungsi dikarenakan sudah mendapatkan imbauan dari pemerintah desa setempat, dikhawatirkan akan terjadi longsor susulan, sebab cuaca hujan dan aliran sungai makin naik” ujar Gugum petugas Pengendalian Operasi BPBD Kabupaten Cirebon, Senin (7/3).
Salah satu pemilik rumah yang terdampak, Nendri mengingkan pihak pemerintah desa dan instansi terkait, agar ada upaya tindakan penyodetan terhadap Sungai Ciwaringin, yang sangat dekat dengan lokasi pemukiman rumah warga.
“Saya berharap kepada Pemdes Ciwaringin dan Instansi terkait agar segera melakukan penyodetan pada sungai, dikhawatirkan akan ada longsor susulan jika hujan deras, dan aliran sungai akan meninggi, serta mengakibatkan rumah sekitar sungai terjadi longsor,” kata Nendri.
Warga liannya, Didi mengatakan, jika tidak segera di tangani penyodetan Sungai Ciwaringin, dikhawatirkan longsor susulan akan terjadi lagi.
“Tidak ada korban jiwa pada kejadian bencana tanah longsor ini, namun pemilik rumah merugi sekitar Rp 200-300 juta, karena harus meninggalkan huniannya, sebagai antisipasi terjadinya longsor susulan,” ujarnya Didi.
Kesiapsiagaan bersama masyarakat dan pemerintah menjadi kunci dalam menyelamatkan warga dari ancaman bahaya. Masyarakat setempat diimbau waspada terhadap potensi longsor susulan karena struktur tebing yang labil dan sudah adanya retakan-retakan di tanah dan lahan penduduk.
Langkah kesiapsiagaan dapat dilakukan apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan berdurasi lama. Evakuasi dini dapat dilakukan dengan berkoordinasi dengan BPBD dan aparat desa setempat. (Herman)









































































































Discussion about this post