KUNINGAN, (FC).- Pemanfaatan teknologi drone mulai diterapkan dalam pengendalian hama padi di Kabupaten Kuningan. Brigade Proteksi Tanaman dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan (Diskatan) menggunakan drone untuk mempercepat dan mengefisienkan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di tingkat lapangan.
Penerapan teknologi tersebut dilakukan saat Gerdal OPT padi di Desa Windujanten, Kecamatan Kadugede, Selasa (3/2), dengan sasaran serangan Bacterial Leaf Blight (BLB/kreksek) di areal seluas 10 hektare milik Kelompok Tani Sri Dewi 3.
Kegiatan dilaksanakan Brigade Proteksi Tanaman bersama Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) dan dipantau langsung Kepala Diskatan Kuningan, Wahyu Hidayah.
Penyemprotan dilakukan dari udara untuk mempercepat jangkauan dan pemerataan aplikasi pestisida.
Wahyu mengatakan, penggunaan drone memberikan keunggulan dari sisi kecepatan kerja dan efisiensi biaya dibanding metode penyemprotan manual.
“Dengan drone, penyemprotan lebih cepat dan merata. Ini sangat membantu saat serangan OPT harus ditangani segera di hamparan yang luas. Dari sisi biaya juga lebih efisien,” ujarnya.
Baca Juga: Marak Penipuan Catut Nama Pejabat, Diskatan Kuningan Warning Kios Pupuk Subsidi
Ia menjelaskan, biaya penyemprotan menggunakan drone berkisar Rp250 ribu per hektare, sedangkan metode manual dapat mencapai Rp350 ribu hingga Rp700 ribu per hektare, tergantung kondisi lahan dan kebutuhan tenaga kerja.
Selain pengendalian teknis, Diskatan juga melakukan edukasi kepada petani mengenai prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT), mulai dari pengamatan rutin hingga penggunaan pestisida berbasis rekomendasi teknis.
“PHT tetap menjadi dasar. Penggunaan pestisida harus tepat dosis dan tepat sasaran agar tidak menimbulkan resistensi dan tetap menjaga keseimbangan lingkungan,” kata Wahyu.
Pada hari yang sama, Brigade Proteksi Tanaman juga menggelar empat Gerdal OPT lain secara paralel di sejumlah kecamatan.
Pengendalian dilakukan terhadap Wereng Batang Cokelat seluas 10 hektare di Desa Bangunjaya, Kecamatan Subang, hama tikus 10 hektare di Desa Cikubangmulya, Kecamatan Ciawigebang, serta serangan BLB dan blas di Desa Babakanmulya, Kecamatan Cigugur seluas 5 hektare dan Desa Bungur Beres, Kecamatan Cilebak seluas 10 hektare.
Diskatan memastikan pemantauan lanjutan pascagerdal akan terus dilakukan oleh POPT di lapangan untuk mengukur efektivitas pengendalian dan mencegah serangan berulang, sebagai bagian dari upaya menjaga produktivitas padi dan ketahanan pangan daerah. (Angga)











































































































Discussion about this post