MAJALENGKA, (FC),- Jengkol yang sempat hilang di pasaran karena tidak adanya pasokan dan harganya yang lumatan tinggi, kini mulai tersedia kembali di sejumlah pasar yang ada di Kabupaten Majalengka.
Namun, harga eceran masih melejit, yakni masih mencapai Rp 100.000 per kilogram. Sementara di tingkat distributor itu sendiri, harganya Rp 70.000 per kilogram.
Menurut Yayat, seorang pedagang sayuran di pasar tradisional Cigasong Kabupaten Majalengka, jengkol mulai tersedia kembali sejak seminggu terakhir. Namun, harganya belum turun sejak terjadi kenaikan harga beberapa pekan lalu.
”Barangnya juga hanya satu jenis. Jengkol tua namun tidak terlalu tua juga. Jengkol mudanya tidak tersedia. Tidak terlalu tua karena mungkin dikejar kebutuhan pasar,” ujar Yayat, Selasa (5/8).
Yayat pun mengaku hanya menyediakan jengkol 10 kilogram saja karena khawatir kurang laku akibat harganya mahal.
“Menyediakan jengkol karena banyak yang nanya, tapi ya yang beli paling banyak ¼ kilogram, malah ada yang hanya 1 ons,” kata Yatat.
Sementara itu, Ratnasari seorang konsumen mengatakan, meskipun harganya mahal, ia tetap membeli jengkol ¼ kilogram. Hal itu untuk mengobati kerinduan, karena sudah lebih dari sebulan tidak makan jengkol. “Sudah lama (jengkol) langka, sekarang baru beli karena baru tahu tersedia lagi di pasar,” katanya.
Sementara itu, Sofyan, salah satu pemilik grosir jengkol mengatakan, jengkol mulai tersedia lagi sejak kurang lebih sepuluh hari terakhir.
Namun, harganya memang masih cukup mahal, karena pasokan jengkol masih kurang dari petani di wilayah Sumatra. Dia sendiri mengaku memperoleh barang dagangan dari Pasar Induk Cibitung, karena jika terus menunggu kiriman, belum tahu kapan datangnya.
“Ini baru pagi tadi datang barang. Ini juga tidak banyak, hanya berapa kuintal saja, mengambil dari Pasar Cibitung,” kata Sofyan, yang mengaku cukup lama menutup kios jengkolnya karena tidak tersedia barang.
Petani Jengkol Menurut Sofyan, selama ini dia mendapat pasokan jengkol dari Lampung dan Kalimantan, sedangkan jengkol lokal nyaris tidak pernah ada. Kalaupun ada, hanya sedikit sekali. Itu pun dikirim dari wilayah Rajagaluh dan tidak memenuhi kebutuhan pasar.
Petani di wilayah Majalengka sendiri jarang menanam jengkol. Sekalipun ada yang menanam, hanya untuk konsumsi sendiri. Tidak seperti di wilayah lain, yang produknya bisa dijual.
“Di Lampung banyak warga transmigran dari Majalengka yang berkebun jengkol. Bibitnya dulu dari Rajagaluh. Sekarang hasilnya kembali ke Majalengka. Sementara orang Majalengka yang dulu biasa mengirim bibit buah-buahan, malah tidak ada kebun jengkol,” katanya. (Munadi)














































































































Discussion about this post