KOTA CIREBON, (FC).- Aktivitas pariwisata di Kota Cirebon selama masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 mencatat puluhan ribu kunjungan wisatawan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon mencatat total 37.237 wisatawan mendatangi berbagai destinasi unggulan di Kota Cirebon.
Kepala Disbudpar Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya menyampaikan angka tersebut diperoleh dari hasil pemantauan intensif yang dilakukan selama periode 24 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026 di sejumlah objek wisata.
“Penghitungan dilakukan melalui monitoring langsung di lokasi wisata selama libur Natal dan pergantian tahun,” ujar Agus di Kantornya, Selasa (6/1/2026).
Berdasarkan data Disbudpar, Wisata Bahari Kejawanan (WBK) masih menjadi magnet utama bagi wisatawan. Sepanjang libur akhir tahun, destinasi wisata pantai tersebut dikunjungi 28.221 orang, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada 1 Januari 2026 yang mencapai 10.667 pengunjung.
“Momentum tahun baru masih menjadi waktu favorit masyarakat untuk berwisata ke WBK,” kata Agus.
Untuk wisata budaya dan sejarah, Keraton Kasepuhan mencatat jumlah kunjungan tertinggi dengan total 4.434 wisatawan. Sementara itu, Keraton Kacirebonan menerima 609 pengunjung, dan Keraton Kanoman dikunjungi 155 wisatawan selama periode yang sama.
Selain itu, destinasi wisata lain juga menunjukkan pergerakan kunjungan. Goa Sunyaragi mencatat sebanyak 3.293 wisatawan, sedangkan Cirebon Waterland menerima 525 pengunjung sepanjang libur Natal dan Tahun Baru.
Agus menuturkan, secara keseluruhan wisatawan yang datang ke Kota Cirebon masih didominasi oleh wisatawan domestik, sementara kunjungan wisatawan mancanegara tercatat masih minim.
Ia juga mengungkapkan jumlah kunjungan pada libur akhir tahun kali ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025, yang mencapai sekitar 49.700 wisatawan.
“Penurunan ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang kurang bersahabat, termasuk curah hujan tinggi serta banjir yang terjadi di wilayah Kota dan Kabupaten Cirebon,” jelasnya.
Menurut Agus, cuaca ekstrem berdampak pada kenyamanan dan akses wisatawan, terutama ke destinasi yang mengandalkan ruang terbuka dan wisata alam.
Selain itu, perubahan pola perjalanan wisatawan di musim hujan juga menjadi faktor yang turut memengaruhi angka kunjungan.
“Ini menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk memperkuat pengelolaan destinasi dan strategi promosi, khususnya pada periode musim hujan,” pungkasnya. (Agus)













































































































Discussion about this post