“Contohnya Desa Cibuntu yang sudah pada kategori desa wisata maju, tinggal meningkatkan pemanfaatan komoditi pertanian, perkebunan dan peternakan sehingga lebih berdaya saing, tentu akan kami komunikasikan pada pimpinan agar dapat diintegrasikan lintas sektor, maka melalui upaya ini kami coba mengoperasionalkan definisi desa pinunjul dan desa wisata yg tidak mungkin bisa dikerjakan sendiri sendiri,” jelasnya.
Ritto mencontohkan dengan mengembangkan padi organic yang memanfaatkan pupuk dari kampung kambing, olahan hasil perkebunan dan sebagainya, yang tetap masih bergantung pada kreatifitas masyarakat serta pendampingan dari berbagai pihak, antara lain pihak akademis yang konsen pada bidangnya.
Saat ini Pokdarwis Desa Cibuntu dan kelompok tani lainnya telah diberikan bimtek tentang bagaimana merubah kualitas tanah yg tadinya kurang baik menjadi lebih berkualitas, dengan cara mentreatment lahan tersebut dengan mengembangkan mikroba yang berfungsi untuk memperbaiki ekologi sehingga kualitas tanaman pangan bisa lebih terjamin.
“Sayang kalau cuma bergulat di penjualan tiket wisata aja, sementara potensi lain tidak disentuh, sekarang bagaimana caranya masyarakat Desa Cibuntu Kecamatan Pasawahan yang mayoritasnya adalah agraris lebih merasakan manfaat dengan dikembangkannya model sosioagroecotourism berbasis organic, bukan hanya padi, ke depan ubi manoharanya juga organic, ini baru desa wisata maju, tidak salah dipilih menjadi desa yang berlable berkelanjutan berbasis pemberdayaan masyarakat, berbudaya agraris,” lanjutnya.
Kabid SDA dan Teknologi Tepat Guna DPMD Kabupaten Kuningan, Rita Yunia Pratidina menjelaskan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam desa khususnya di Kabupaten Kuningan masih masih harus terus dioptimalkan.











































































































Discussion about this post