Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Hajam mengungkapkan, diskusi ini sangat aktual dan menarik, sebagai wujud moderasi Islam.
“Bagaimana Islam di dunia maya ini memberi pencerahan terhadap isu-isu aktual yang sekarang ini sedang terjadi, seperti di Amerika yang hangat tentang isu rasisme, dan juga yang masih kerap terjadi mengenai isu radikalisme,” ungkap Hajam.
Bahkan, jelas Hajam, Akademisi harus dapat memberikan peran yang sangat signifikan secara keilmuan.
“Mahasiswa atau akademisi juga harus bisa membangun metodologi keagamaan yang beragam, harus memberikan warna kepada semuanya, sehingga Islam itu tidak mono akan tetapi universal. Dan perlu ada kearifan lokal, jangan hanya fokus budaya dunia maya, akan tetapi akar rumput kita terlupakan,” tandasnya.
Sementara itu, Jati Savitri, selaku narasumber menyampaikan, wajah Islam di dunia digital selaras dengan perkembangan teknologi sekarang. Dimana sehari-hari kita tidak bisa lepas dengan yang namanya aplikasi yang sangat membantu.















































































































Discussion about this post