KAB. CIREBON, (FC).- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada sektor pertanian di Kabupaten Cirebon. Harga pestisida dan perlengkapan pertanian mengalami kenaikan sehingga biaya produksi petani ikut membengkak.
Kondisi tersebut dirasakan petani di Desa Tegalkarang, Kecamatan Palimanan. Seorang petani, Rojai (51), mengatakan kenaikan paling terasa terjadi pada produk pestisida, mulai dari herbisida, insektisida hingga fungisida.
“Rata-rata naik sekitar Rp5 ribu sampai Rp10 ribu per botol ukuran satu liter,” ujar Rojai, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, kenaikan harga dipicu mahalnya bahan baku plastik kemasan dan bahan aktif pestisida yang masih bergantung pada impor.
“Dari informasi kios, kenaikan terjadi karena harga plastik dan bahan aktif impor ikut naik akibat dolar menguat,” katanya.
Tak hanya pestisida, perlengkapan pertanian berbahan plastik juga mengalami kenaikan harga. Selang untuk kebutuhan pompanisasi sawah bahkan disebut naik hingga 50 persen menjelang musim kemarau.
“Sekarang banyak petani membeli selang untuk pompanisasi dan harganya naik cukup tinggi,” ujarnya.
Kenaikan sarana produksi pertanian tersebut membuat biaya operasional petani semakin besar. Meski harga gabah di tingkat petani saat ini cukup tinggi, keuntungan petani dinilai tetap tergerus akibat meningkatnya biaya budidaya.
“Harga gabah memang sedang bagus, sekitar Rp7.400 sampai Rp7.800 per kilogram, tapi biaya produksi juga ikut naik,” kata Rojai.
Ia menilai penggunaan pestisida masih diperlukan untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), terutama di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Sekarang serangan hama seperti tikus, penggerek batang dan wereng masih tinggi, jadi penggunaan pestisida tetap dibutuhkan,” jelasnya.
Untuk menekan biaya produksi, petani di Desa Tegal Karang mulai mencoba penggunaan pestisida organik sebagai alternatif pengganti pestisida kimia impor.
“Kami mulai mengombinasikan pestisida organik supaya biaya produksi bisa ditekan,” ujar Rojai yang juga Ketua Gapoktan Tani Makmur Desa Tegalkarang.
Sementara itu, pelayan toko sarana pertanian di Desa Tegalkarang, Deni Apriliani (29), membenarkan adanya kenaikan harga hampir seluruh produk pestisida dalam satu bulan terakhir.
“Yang sebelumnya Rp50 ribu sekarang jadi sekitar Rp60 ribuan,” katanya.
Ia menyebut kenaikan harga juga terjadi pada selang air yang kini hampir dua kali lipat dibanding sebelumnya.
“Dari sekitar Rp90 ribu sekarang jadi Rp180 ribuan,” ujarnya.
Meski harga terus meningkat, kebutuhan sarana pertanian membuat petani tetap membeli berbagai perlengkapan tersebut.
“Mau mahal atau murah tetap dibeli karena memang kebutuhan utama petani,” pungkasnya. (Johan)














































































































Discussion about this post