CIREBON, (FC).- Dentuman Misterius yang cukup besar terjadi sekitar Jam 18.30 WIB, dentuman ini ini sebelumnya disertai dengan kilatan bola api berekor yang melintas cepat di langit.
Cakupan dentuman dan bila api bukan hanya terjadi di Wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) saja, tapi beberapa tempat di Jawa Tengah seperti Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal sampai Kabupaten Pemalang.
Kehebohan dentuman ini juga dirasakan sampai ke Kabupaten Subang yang jaraknya cukup jauh dari Cirebon.
Dentuman keras ini menimbulkan berbagai spekulasi di tengah-tengah masyarakat. Ada yang mengira itu adalah ban truk pecah, meteor jatuh, bahakan dihubungkan dengan hal mistis seperti ada banaspati yang berupa gumpalan bola api terbang.
Nah, seperti dikutip BMKG Kertajati melalui Prakirawan Cuacanya Dian Anggraini mengatakan, pihaknya masih menyelidiki dan menghimpun data terkait dentuman keras tersebut.
“Kami masih mengumpulkan data dan informasi terkait kejadian ini,” ucapnya dalam keterangan pers pada Senin dinihari (6/10/2025).
Dikatakannya, fenomena terkait meteor atau antariksa, merupakan kewenangan dari BRIN.
Sedangkan dari sisi BMKG, Dyan menyampaikan bahwa suara dentuman, bisa saja disebabkan beberapa hal, seperti sambaran petir, gempa maupun longsor.
“Karena pada dasarnya fenomena terkait meteor atau antariksa merupakan kewenangan dari BRIN. Dari sisi BMKG suara dentuman bisa d sebabkan beberapa hal seperti sambaran petir, gempa maupun longsor,” jelasnya.
Dari sisi meteorologi, pihaknya belum bisa menyimpulkan fenomena apa. Namun biasanya suara ledakan atau getaran dari sisi meteorologi bisa berasal dari sambaran petir disebabkan awan konvektif, namun saat itu kondisi cuaca cerah berdasarkan citra satelit.
“BMKG Stasiun Kertajati tidak memiliki alat untuk mendeteksi pergerakan meteor. Namun, dari hasil analisa sementara, kami baru dapat mengumumkan bahwa percikan api bukan sambaran petir yang berasal dari awan Cumulonimbus (CB). Dikarenakan, kondisi cuaca pada saat kejadian, terpantau cerah berawan,” ungkapnya.
Sementara itu, dikutip dari radar Cirebon, Profesor Thomas Djamaluddin, Peneliti Astronomi dan Astrofisika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, berdasarkan laporan yang dia terima, terdapat adanya dentuman yang terdengar di wilayah Kuningan dan Kabupaten Cirebon.
Kemudian, BMKG berhasil mendeteksi adanya getaran pada pukul 18:39:12 WIB.
Di samping itu, terdapat warga yang menyaksikan adanya bola api yang meluncur dan ada rekaman CCTV pada pukul 18:35 WIB.
Berdasarkan sejumlah keterangan tersebut, Prof Djamal menyimpulkan adanya meteor dengan ukuran cukup besar yang melintasi wilayah Cirebon dan Kuningan.
“Saya menyimpulkan itu adalah meteor cukup besar yang melintas memasuki wilayah Kuningan – Kab Cirebon dari arah barat daya sekitar pk 18.35 – 18.39. Ketika memasuki atmosfer yg lebih rendah menimbulkan gelombang kejut berupa suara dentuman dan terdeteksi oleh BMKG Cirebon pk 18.39.12 WIB dan meteor tersebut jatuh di Laut Jawa,” terangnya.
Berdasarkan informasi yang didapat, meteor yang jatuh ini dapat dilihat secara nyata oleh warga Cirebon. Sama seperti meteor yang lainnya, ketika memasuki atmosfer bumi maka meteor akan terbakar dan pecah menjadi pecahan kecil dan kemudian menghilang. Hal ini sudah biasa terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Apalagi bulan Oktober 2025 ini kita akan menyaksikan Hujan Meteor di wilayah Indonesia. Hujan meteor yang akan terjadi yaitu Draconid, Taurid Selatan, Delta Aurigid, Epsilon Geminid, dan Orionid. Kemungkinan meteor yang jatuh pada jam 18:30 WIB di Cirebon tadi merupakan salah satu dari rangkain hujan meteor yang akan terjadi. Untuk membuktikan hal ini masih dilakukan analisis lebih lanjut. (Agus)














































































































Discussion about this post