LEMAHWUNGKUK, (FC).- Di tengah menyusutnya lahan pertanian di Kota Cirebon, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Cirebon mendorong warga memanfaatkan ruang sempit di lingkungan permukiman melalui program urban farming terpadu.
Program ini tak hanya fokus pada budidaya tanaman, tetapi juga menggabungkan peternakan ayam petelur dan perikanan dalam satu ekosistem sederhana yang bisa diterapkan di rumah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Cirebon, Elmi Masruroh mengatakan konsep tersebut menjadi solusi konkret atas keterbatasan lahan pertanian di Kota Cirebon yang kini tersisa kurang dari 94 hektare.
“Urban farming terpadu ini kami kembangkan agar masyarakat tetap bisa memproduksi pangan sendiri meski tinggal di kawasan padat penduduk,” ujar Elmi, Selasa (14/4).
Menurutnya, DKPPP sengaja membuat konsep budidaya yang sederhana, menarik, dan mudah dijalankan masyarakat. Salah satu inovasi yang diterapkan yakni pengelolaan ayam petelur dengan sistem pencatatan produksi telur, kesehatan ternak, hingga penamaan ayam untuk memudahkan pemantauan.
Selain itu, warga juga diberikan edukasi soal pengelolaan kandang yang bersih agar tidak menimbulkan bau dan tetap nyaman di lingkungan permukiman. Salah satu caranya dengan penggunaan kapur untuk menjaga kebersihan kandang.
Program ini pun mulai mendapat respons positif dari masyarakat. Sejumlah warga di tingkat kelurahan mulai membangun kandang ayam petelur secara swadaya melalui iuran bersama setelah mendapat pendampingan dari DKPPP.
DKPPP, lanjut Elmi, terus melakukan pendampingan melalui petugas lapangan, mulai dari pemberian pakan, perawatan harian, vaksinasi, hingga pengobatan ternak.
Saat ini, kelompok binaan peternak ayam petelur telah berjalan di Kelurahan Kalijaga dan Argasunya. Masing-masing kelompok mengelola sekitar 600 ekor ayam bantuan Kementerian Pertanian yang kini sudah rutin menghasilkan telur setiap hari.
Tak hanya mendampingi masyarakat, DKPPP juga membuat proyek percontohan skala kecil yang dikelola internal pegawai. Sebanyak 17 ayam petelur dipelihara untuk memahami langsung tantangan di lapangan.
“Dari 17 ekor ayam, hasil produksi bisa mencapai 17 butir telur per hari. Bahkan pernah produksi penuh,” kata Elmi.
Untuk memulai usaha skala rumah tangga, biaya yang dibutuhkan relatif terjangkau, yakni sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta. Biaya tersebut sudah mencakup kandang, bibit ayam, dan pakan awal.
Selain menghasilkan telur untuk kebutuhan keluarga, program ini juga membuka peluang tambahan penghasilan. Hasil telur dapat dijual, sementara limbah kotoran ayam dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman dalam sistem pertanian terpadu.
Elmi menambahkan, konsep ini mulai diperluas ke sejumlah titik lain di Kota Cirebon. Beberapa kelompok binaan kini telah memiliki tanaman hortikultura, kolam ikan, dan dalam waktu dekat akan dilengkapi peternakan ayam petelur.
“Hasil panen dari kelompok binaan juga dipasarkan melalui kegiatan Gerakan Pangan Murah, sehingga manfaat ekonominya bisa dirasakan langsung masyarakat,” pungkasnya. (Agus)














































































































Discussion about this post